Wednesday, June 10, 2009

Pasar Ekonomi dan Pasar Politik

Sebagian bangsa kita memiliki sikap mendua terhadap pasar. Untuk urusan ekonomi sebagian takut terhadap pasar yang bebas, sebaliknya untuk urusan politik kita semua menyerahkan segala urusan kepada pasar. Kita takut pada pasar bebas ekonomi, tapi mengapa kita tak pernah takut terhadap pasar bebas politik?

Pasar memiliki mekanisme sendiri dalam memilih sesuatu. Pelaku pasar, penjual dan pembeli memiliki mekanisme pemilihan produk yang tidak selalu gampang dijelaskan.

Dalam dunia ekonomi produk yang laku tidak selalu berhubungan dengan kualitas. Penyanyi yang bersuara emas tidak selalu yang paling laku di pasaran. Produk unggulan tidak selalu yang paling laku di pasaran. Begitu juga dengan dunia politik. Orang yang dipilih langsung oleh rakyat tidaklah selalu mencerminkan hal yang terbaik. Politikus yang benar-benar cerdas, tulus mengabdi tidak selalu berhasil menang dalam pemilihan. Partai dengan konsep bagus bisa dikalahkan oleh partai yang memiliki tokoh populer. Itulah pasar.

Karena sifat pasar yang sukar dijelaskan ini, pasar bisa menuntun ke kehancuran ekonomi maupun ke arah politik yang tak membawa hasil kesejahteraan rakyat. Pasar – baik pasar ekonomi maupun pasar politik – yang dibiarkan bebas bisa berakibat sama dengan pasar yang terlalu diatur.

Dengan semua kondisi pasar seperti ini seharusnya bangsa Indonesia memiliki sikap yang konsisten terhadap pasar.

Baru-baru ini diskusi arah ekonomi kita dipenuhi kecaman terhadap sistem ekonomi neoliberalis yang memuja kebebasan pasar. Begitu banyak cuap-cuap bahwa ekonomi tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada pasar. Pasar bebas akan mengundang krisis ekonomi. Pasar bebas akan membawa bangsa ini ketidak adilan ekonomi. Yang kaya akan makin kaya, yang miskin makin miskin.

Padahal di sisi politik kita melakukan sebaliknya. Mengapa bangsa ini sangat tidak mau kritis terhadap pasar politik? Mengapa bangsa ini memiliki keyakinan penuh terhadap kebebasan dalam demokrasi politik? Mengapa hampir tidak aktifis yang memiliki prediksi terhadap kegagalan pasar politik? Mengapa tidak dilihat kemungkinan pemilihan pemimpin langsung terutama di daerah-daerah akan menghasilkan pemimpin pas-pasan yang memang sesuai selera rakyat, namun tidak memiliki kapasitas dalam membangun daerah? Bagaimana kita bisa yakin dengan banyaknya pemilu dan pilkada, dengan pemimpin yang berbagai macam aliran politik dan kualitas akan mampu menjalankan kebijakan pembangunan nasional yang koheren? Mengapa tidak ada yang takut Indonesia menjadi negara gagal karena hiruk pikuk politik, yang menjauhkan kita dari pembangunan yang terrencana, koheren dan konsisten?

Sampai saat ini, kecuali Pak Yusuf Kalla yang akan berupaya mengurangi jumlah pilkada dan menyederhanakan sistem politik, hampir tidak ada tokoh yang memperhatikan kerumitan dan mahalnya sistem politik kita yang menganut pasar bebas ini.

Cina, Malaysia, Singapura adalah contoh yang baik dari negara yang kritis terhadap pasar bebas politik. Dan pengalaman mereka menunjukkan pasar politik yang bebas bukanlah segalanya. Mereka telah membuktikan intervensi pemerintah terhadap pasar politik pun dapat membawa kepada kesejateraan rakyat.

* * *

Bagaimana bersikap terhadap pasar adalah yang harus menjadi perhatian kita semua. Jika ingin kritis terhadap pasar, kritislah terhadap pasar di seluruh bidang.

Mengapa orang Indonesia tidak kritis? Saya kira ini berhubungan dengan pola pikir kita. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang mudah terjebak dalam dogma. Kita gampang tertipu dengan berbagai hal tanpa meletakkan hal tersebut dalam suatu cara pandang utuh. Akibatnya di suatu ujung kita terjebak dalam stigma neoliberalisme, sedangkan di ujung lain kita terjebak dengan janji manis demokrasi.

Menurut saya bangsa Indonesia ini suka terhadap konsep wangsit, suatu ide yang tiba-tiba jatuh dari langit, sementara orang lain melahirkan konsep berdasarkan realita.

Semua kebijakan barat – termasuk pada tanggapan terhadap mekanisme pasar – mengacu pada realitas. Adam Smith melahirkan konsep tangan Tuhan berdasarkan pengamatan terhadap realitas, begitu pula Karl Marx melahirkan komunisme juga bergasarkan pengamatan lapangan. Begitu seterusnya ketika Keynes menganjurkan intervensi pemerintah terhadap ekonomi juga semata-mata berdasarkan kenyataan lambannya mekanisme pasar dalam memulihkan ekonomi. Sampai akhirnya Reagan dan Thatcher mengusung neoliberalisme juga semata-mata berdasarkan kenyataan kegagalan bentuk negara yang gemuk, lamban dan penuh intervensi di era akhir 70 an.

Dalam bidang pasar politik, ini sisi yang jarang dilihat orang mengapa pemimpin-pemimpin di negara-negara Cina, Malaysia, Singapura sangat memperhatikan faktor stabilitas politik dan tidak mau menelan mentah-mentah dogma mekanisme pasar bebas dalam ranah politik. Mereka menggunakan otaknya dalam menghadapi pasar bebas politik.

Akhirnya, kita harus kritis terhadap pasar. Pasar bebas tidak selalu berhasil atau terlalu lamban, dan oleh karena itu intervensi yang sesuai diperlukan. Kita bisa belajar dari kegagalan pasar bebas, baik di dunia ekonomi maupun politik. Semua hal yang dibiarkan bebas tak terkendali akan menghasilkan 'chaos'.

* * * * *

Sunday, June 7, 2009

Menggugat Ekonomi Kerakyatan

Manakah lebih yang lebih baik bagi suatu negara, memiliki 1 orang Bill Gates atau 1000 pedagang/produsen gethuk lindri? Manakah yang lebih baik bagi suatu negara, memiliki 1 produsen dengan nilai tambah tinggi atau 1000 produsen dengan nilai tambah rendah?

Di Bangladesh ada Muhammad Yunus, pemenang Nobel dan pahlawan produsen atau pedagang miskin. Tapi semua ini tak berarti apa-apa bagi perekonomian negara. Toh Bangladesh masih termasuk negara miskin. Kekuatan ribuan bahkan jutaan produsen nilai tambah rendah tak berarti apa-apa bagi kemajuan suatu negara.

Produk bernilai tambah rendah akan menghasilkan penghasilan kecil. Penghasilan kecil akan menghasilkan konsumsi yang juga kecil. Tidak banyak variasi barang dan jasa yang bisa dibeli orang yang berpenghasilan kecil, sehingga secara kumulatif ekonomi suatu negara tidak akan pernah berkembang pesat.

Sebaliknya jika di suatu negara ada industri bernilai tambah tinggi, apalagi kemudian industri ini menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, maka dapat dipastikan rakyat di negara itu akan sejahtera. Penghasilan tinggi atau orang kaya akan bisa membeli banyak barang dan jasa. Aktivitas ekonomi akan sangat berkembang di situ. Dan efek dari konsumsi orang kaya ini akan bergerak jauh sehingga akhirnya akan mencapai pedagang kecil juga.

Jadi, lebih berguna bagi suatu negara memiliki Bill Gates daripada memiliki Muhammad Yunus.

* * *

Dalam menyejahterakan rakyatnya, pemerintah seharusnya mengarahkan semua sumberdaya untuk suatu kegiatan ekonomi nilai tambah tinggi. Semenjak Habibie hampir tidak ada pemimpin yang menyadari hal ini.

Bangsa Indonesia mungkin belum memiliki banyak usahawan teknologi nilai tambah tinggi. Ada beberapa yang menghambat itu yaitu: (i) orang yang memiliki bakat teknologi sekaligus sebagai wirausaha jumlahnya tidak terlalu banyak dan (ii) iklim bisnis teknologi tinggi yang memiliki resiko besar tidak memiliki dukungan yang kuat di sini.

Tapi banyak jalan menuju Roma. Indonesia bisa mengembangkan industri bernilai tambah tinggi dengan 2 cara, yaitu: (i) meningkatkan peran BUMN yang bergerak di ekonomi nilai tambah tinggi dan (ii) mengundang produsen produk bernilai tambah tinggi untuk berinvestasi di sini.

Sebagai negara dengan ekonomi skala besar sangat mudah bagi Indonesia untuk menemukan pasar dan secara bertahap meningkatkan kemampuan menambah nilai suatu produk.

Indonesia tidak seharusnya membeli lagi dalam jumlah besar, kereta api bekas dari Jepang, panser dari Perancis dan kapal dari Jerman. PT. Inka harus didukung untuk meningkatkan kemampuan teknologinya untuk membuat kereta api. Begitu pula PT. Pindad, PT. PAL dan PT. DI harus didukung untuk membuat lebih banyak dan lebih baik dari produk seperti panser, senjata, kapal ataupun pesawat dan helikopter. Lebih jauh lagi, lebih baik mendirikan pabrik biodiesel dalam skala besar daripada mengimpor BBM.

Semua produk ini memiliki pasar di dalam negeri yang sangat terjamin sehingga setiap BUMN ini akan mampu terus menerus meningkatkan teknologinya. Pada akhirnya ketika produk sudah kompetitif, BUMN akan mampu melakukan ekspor dan bersaing dengan produk dari negara lain.

Indonesia juga bisa mengembangkan ekonomi nilai tambah tinggi ini dengan mengundang investasi asing dari perusahaan-perusahaan unggulan dunia untuk membuat investasi di sini. Keuntungannya iklim bisnis kita akan terpengaruh suasana industri teknologi unggulan yang dalam jangka panjang bisa menjadi inspirasi untuk berinovasi. Sedangkan dalam jangka pendek, tenaga kerja dan industri lokal dapat berperan sebagai pemasok dalam jaringan industri bernilai tambah tinggi ini.

* * *

Paradigma ekonomi kerakyatan sangat menyesatkan dan memiliki logika yang lemah sebagai jalan untuk menyejahterakan rakyat. Hanya aktivitas ekonomi yang bernilai tambah tinggi yang akan bisa melakukan itu.

Secara ringkas kita dapat menyimpulkan jalan kesejahteraan sebagai berikut. Tujuan utamanya adalah meningkatkan penghasilan rakyat secara keseluruhan. Agar rakyat berpenghasilan tinggi, maka rakyat harus berada dalam kisaran aktifitas ekonomi dengan nilai tambah tinggi. Ada perusahaan yang memimpin inovasi di suatu bidang yang dipilih, sementara yang lain bisa menjadi pemasok. Jika di negara itu tidak ada orang yang jago berinovasi semacam Bill Gates, maka yang diperlukan adalah negara mengambil peran Bill Gates itu melalui BUMN untuk suatu bidang. Untuk bidang dimana tidak ada BUMN yang bisa menjadi Bill Gates, maka yang perlu dilakukan negara adalah mengundang Bill Gates untuk berinvestasi di sini.

Sekali lagi, bukan ekonomi kerakyatan yang kita perlukan, tapi ekonomi nilai tambah tinggi!

* * * * *

Monday, June 1, 2009

Education For Productivity

Welfare is the main goal of any nation. As long as one nation cannot discover a big oil field, their welfare only comes from high productivity where input is processed to be high output.

Input can be found everywhere, but the output is merely based on the capacity of how each nation processing it. For instance iron is found everywhere, included in poor country, but the Japanese create those irons to be the best car in the world. Imagination is found everywhere, included in poor country, but the Americans create those imaginations to be the best film or best software in the world.

The welfare difference among nations is caused of how they benefit any input. The more output they can create, the more welfare they can can get. And high productivity is parameter of high output.

In detail the sources of productivity can be divided into 2 types, namely: (i) added value, (ii) production efficiency.

Added value process is to enhance the value of input. An input is processed through innovation, so the output higher and higher. Iron is added by values, it becomes a car. An ordinary car is added by specific values and it becomes Lexus.

Efficiency is the process to decrease input to get at least the same output. This is the added value of production process. Henry Ford innovated the car production process for the cheaper car price. Instead of making cars one by one, he introduced the system of line production where the components of a car are produced separately and they are assembled through conveyor belt.

Both of productivity sources depend on knowledge capacity of human resources. And knowledge depends on education in formal or informal way. Innovation only comes from the better understanding of knowledge. Certainly business profit also encourages innovation.

The data show how superior developed nations on innovation. During 1980 – 1999, the Arabs resulted in 171 international patents, while South Korea resulted in 16.328. And Hewlett Packard, the American multinational company, patented 11 new innovations everyday.

The harsh competition in business compels any business entity to innovate everyday. So the government has to support business competitiveness through the right education policy.

To maintain the competitiveness and domination of Toyota and Sony, the Japanese system of education must always be improved to create the best mechanical and best electrical engineer. To maintain the competitiveness and domination of Microsoft and Intel, the American system of education must always be improved to create the best information technology specialist.

* * *

There 2 conditions of Indonesia concerning with education for productivity, namely: (i) education effectiveness, (ii) link and match between research and industry.

First, there is an example that proves our education has no clear objective.

As the the governor of Gorontalo Province, once Fadel Muhammad visited the local vocational school. He found the teacher was teaching train technology to the pupils. He wondered there was no train in Gorontalo Province and there was no plan to develop train as transportation system. Then he asked the teacher whether the teacher had seen the train before. Fadel got the funny answer that the teacher had never traveled by train and even he never seen the train directly, except from the picture!

It is clear that Gorontalo's pupil do not need to learn the train technology because it will never add value to the pupils and to economic development of Gorontalo province.

In contrast Gorontalo province has many boats for fishing. Technology development for boats will be valuable. So the education in Gorontalo should focus on boat technology rather than train technology.

Certainly the basic science and skill such as math, physics, chemistry, English is important, but for practical objective the knowledge taught should be in line with the local economic development.

Some research point out that the existence of Silicon is full supported by the existence of Stanford University and California University.

Second, there is no link and match between industry and research.

In 2008, the government through Ministry of Research and Technology established Business Development Center. This institution is to bridge industry and research.

Until now there is a hundred of innovative products. However this does not influence much to economic progress. Those products cannot benefit to economy because they cannot link and match with market demand. They have never reached the level of mass production.

The executive director of Business Innovation Center (BIC), Kristanto Santosa, may have the right statement. He said that all we need is the leader who have great passion on innovation spirit. Since Habibie era, we have no leaders who paid the great attention to innovation. Only Pak Habibie has awareness of “added value” to guide government policy. So what we need now is the new leader like Habibie.

* * * * *

Friday, May 29, 2009

Mendengar Prabowo

Kalau perusahaan baru berdiri, maka yang paling baik menjadi pemimpin adalah ahli hukum untuk menguruskan legalitas perusahaan. Setelah itu, perusahaan sebaiknya dipimpin oleh ahli pemasaran untuk membuka dan mendapat pangsa pasar. Setelah pasar terbentuk, yang paling tepat memimpin adalah ahli manajemen efisiensi produksi (lean production).

Begitu juga negara. Untuk mendirikan negara, maka yang pas memimpin adalah orator ulung – seperti Bung Karno – untuk membangkitkan persatuan dan persaudaraan bangsa. Setelah negara terbentuk, maka yang pas memimpin adalah administrator ulung dan pakar stabilitas seperti – Pak Harto – untuk mempersiapkan landasan pembangunan. Setelah semuanya terbentuk, maka yang paling pas memimpin negara adalah pemimpin yang memiliki visi ekonomi yang jelas.

Dari visi ketiga calon kandidat presiden saat ini, menurut saya yang paling pas untuk memimpin bangsa ini adalah visinya Prabowo Subianto (... dan Megawati).

Dari sisi target pertumbuhan ekonomi, jelas Prabowo unggul. Prabowo menargetkan 10%, sementara JK 8%, dan sayangnya SBY cuma berani menargetkan 7%. Memang banyak orang menyatakan bahwa target 10% tidak akan tercapai karena tidak realistis, tapi target 7% pun bukan jaminan untuk tercapai dengan mudah. Dengan target 10% itu Prabowo pasti bekerja sangat keras untuk membuktikan target itu bukan mimpi dan rakyat bisa menuntut balik kalau target itu tidak tercapai. Kalau tidak tercapai, minimal Prabowo akan dipermalukan karena asbun.

Prabowo memaparkan misi ekonomi yang konkrit untuk mencapai target hebat tersebut. Beliau menyatakan akan fokus pada pembangunan pertanian. Beliau menargetkan untuk menanam 4 juta lahan aren untuk industri biodiesel. Dan visi ini terintegrasi bagus dengan terciptanya 24 juta lapangan kerja dan biodiesel itu bisa menggantikan impor BBM kita.

Selain itu beliau juga anti menyerahkan semua persoalan kepada mekanisme pasar. Beliau akan menjadikan BUMN sebagai motor penggerak ekonomi bangsa, alih-alih menjualnya kepada pihak asing. Ini juga bagus karena semangat wiraswasta belum ada pada rakyat Indonesia, maka harus ada perusahaan negara yang memimpin di depan untuk menggerakkan bisnis.

Secara ringkas, dari sisi visi ekonomi, SBY itu terlalu normatif, JK sangat praktis dan 'problem solver' lapangan yang hebat, sementara Prabowo memiliki visi dan misi ekonomi yang jelas dan sangat bisa dimengerti.

* * *

Banyak orang mengecam masa lalu Prabowo. Beliau adalah menantu Pak Harto, presiden hebat yang jasa-jasanya dicampakkan oleh bangsanya sendiri. Prabowo juga dianggap terlibat terhadap kasus penculikan aktifis di era Pak Harto.

Peter Drucker dalam The Effective Executive menjelaskan pentingnya kita berpusat pada kekuatan seseorang dan bukan kepada kelemahannya.

Peter Drucker mengisahkan bagaimana Presiden Abraham Lincoln memenangkan perang sipil di AS. Pada suatu masa pasukan Lincoln kalah terus di medan perang. Titik balik kemenangan pasukan Lincoln adalah ketika beliau menunjuk Jendral Grant. Jendral Grant adalah pemimpin perang yang hebat yang memiliki kebiasaan buruk dengan minuman beralkohol. Kelemahan ini bertolak belakang dengan Lincoln yang terkenal sebagai orang yang bersih dan tahu persis bahwa alkohol adalah berakibat buruk bagi kesehatan.

Presiden Lincoln bertekad memilih Jendral Grant karena kekuatan, bukan karena kesempurnaan, bukan karena hidup bersihnya. Pencapai tujuan akan efektif dengan memilih orang yang memiliki kekuatan!

Prabowo mungkin memiliki masa lalu yang tak sempurna, namun saat ini dia adalah calon pemimpin yang memiliki kekuatan visi dan misi ekonomi yang hebat.

Masalah lain yang muncul adalah Prabowo adalah 'cuma' calon wakil presiden. Sementara Megawati adalah calon presiden yang kemampuannya sangat diragukan.

Ada 'blessing in disguise' dalam perpolitikan di Indonesia. Sistem presidensial kita memiliki banyak kelemahan, namun juga menyediakan peluang bagi Prabowo. Paket presiden dan wakil presiden dalam sistem pemerintahan presidensial kita, dapat dengan mudah menjadi paket presiden dan perdana menteri. Megawati bisa menjadi kepala negara, sementara Prabowo bisa menjadi kepala pemerintahan/ perdana menteri.

* * *

Pemimpin harus memancarkan optimisme bagi rakyatnya. Dengan target pertumbuhan ekonomi 10% itu Prabowo telah membangkitkan optimisme kita. Dan yang patut dicatat, Prabobowo sangat paham dengan pertumbuhan ekonomi yang sedang-sedang saja, maka bangsa Indonesia akan begini terus sampai puluhan tahun ke depan. Nasib bagsa Indonesia tidak akan berubah banyak dengan pertumbuhan di bawah 10%. Hanya dengan pertumbuhan dua angka yang konsisten yang dapat menaikkan kesejahteraan dan martabat bangsa Indonesia.

Tidak ada pemimpin yang cocok di segala musim. Dan pada musim ini negara kita sedang membutuhkan pemimpin dengan kecerdasan tinggi, yang berani memasang target yang optimis dan siap dengan rencana logis dan konkrit untuk membangun negara ini. Saya kira memberi kesempatan kepada Prabowo Subianto untuk berkarya bagi bangsa ini adalah sebuah pilihan yang baik.

* * * * *

Wednesday, May 13, 2009

Profiles in Courage versi Indonesia

* SBY For President

Tahun 1955 John F Kennedy mendapat hadiah Putlizer untuk karyanya Profiles in Courage. Buku ini menggambarkan kegigihan 8 Senator Amerika Serikat – yang hidup di jaman, tempat berbeda dan menghadapi masalah yang berbeda pula – dalam mempertahankan idealisme sendiri yang berhadapan dengan partainya sendiri ataupun pendapat umum. Semua Senator ini berani menghadapi semua kritikan tajam, cercaan dari semua orang dan resiko kehilangan popularitas. Buku ini adalah tentang keberanian. Kennedy mengutip Ernest Hemingway yang mengungkapkan “courage is grace under pressure”.

Calon presiden terkuat, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), memilih Boediono sebagai calon wakil presiden (cawapres) dalam pemilihan presiden Republik Indonesia periode 2009 – 2014.

Tindakan berani SBY, yang diluar pakem, yang memilih cawapres yang tidak berasal dari partai politik ini tentu saja mendapat kritikan tajam dari mitra dari koalisi yang baru saja dibina.

Yang patut ditonjolkan dalam preferensi SBY ini adalah Boediono - gubernur Bank Indonesia saat ini - merupakan seorang ekonom yang berpengalaman dan kompeten. Boediono mencerminkan orang yang berhasil memegang jabatan tinggi karena kemampuan teknisnya. Dan SBY memilih Boediono lebih karena alasan teknis.

Dan dengan alasan ini maka SBY terancam kehilangan dukungan banyak pihak termasuk masyarakat. Partai politik yang marah jelas akan menarik dukungan, sedangkan masyarakat akan melihat kombinasi ini tidak ideal secara geografis, karena, sama seperti Letto, keduanya sama-sama wong Jowo.

Pemilihan cawapres seperti Boediono ini membuktikan SBY itu orang yang berani, dan tidak seperti yang dikatakan banyak orang bahwa dia peragu. Keberanian SBY ini membuat ia masuk nominasi Profiles in Courage versi Indonesia. Paling tidak saat ini baru ada satu nama yang pantas masuk daftar, yaitu: Pak Harto!

* * *

Berpolitik itu butuh keberanian. Tapi selain itu berpolitik itu juga harus mengesankan. Ada banyak orang yang memegang jabatan hebat dan tinggi di negeri ini akan segera kita lupakan, karena kita tidak melihat warisan baik yang ia tinggalkan. Berapa banyak pemimpin partai atau politikus yang pada suatu masa berita tentangnya banyak menghiasi media massa, lalu kemudian turun dan menghilang dan kita sama sekali tidak bisa mengenang jasa-jasanya bagi negeri ini.

Tentu saja jalan SBY masih sangat panjang. SBY harus mengatasi kompetitor kuatnya seperti Jusuf Kalla, ataupun Megawati dan Prabowo. Tapi SBY sudah memulai langkah berani pertama.

Melihat keadaan politik sekarang, saya berasumsi SBY akan bisa melanjutkan pemerintahannya, sehingga SBY bisa melanjutkan ke langkah berani berikutnya.

Langkah berani berikutnya yang patut kita tunggu dari presiden mendatang adalah penerapan teknokrasi. Anggota kabinet tidak usah lagi mengambil dari orang-orang partai namun terdiri dari para profesional yang kompeten dalam bidangnya masing-masing. Kabinet di jaman reformasi memiliki banyak ketua ataupun aktifis partai.

Indonesia masih membutuhkan orang yang memiliki kompetensi sangat tinggi untuk membangun berbagai sektor. Orang itu harus sangat menguasai permasalahan secara komprehensif. Sungguh tidak arif dan bijaksana menyerah suatu urusan departemen kepada yang bukan ahlinya seperti ketua /aktifis partai dimana mereka harus belajar dulu sebelum menjalankan tugas. Kalau mereka “quick learner” ya mungkin tidak apa-apa, tapi kalau ternyata mereka memang tidak kompeten yang akan dipertaruhkan dan dirugikan adalah kesejahteraan rakyat.

Sesungguhkan seorang presiden tidak perlu khawatir kekurangan stok orang-orang yang andal pada suatu bidang. Ada banyak bintang-bintang cemerlang yang telah mengabdikan hidupnya di suatu bidang.

Saya memikirkan misalnya Onno W Purbo sebagai Menteri Komunikasi dan Informasi, Fadel Muhammad/ Gamawan Fauzi sebagai Menteri Dalam Negeri, Yohanes Surya/ Anies Baswedan sebagai Menteri Pendidikan, Ulil Abshar-Abdalla sebagai Menteri Agama, Soemanto/ Master Limbad sebagai Menteri Pertahanan Keamanan, Ponari sebagai Menteri Kesehatan. (Tentu saja 2 menteri terakhir tidak benar ;-))

Selanjutnya kita juga berharap SBY melakukan langkah berani terakhir yaitu mempersiapkan kadernya untuk melanjutkan estafet kepemimpinan. Mantan Direktur BRI, Djokosantoso Moeljono pernah mengungkapkan secara indah tugas pemimpin yang pertama, adalah: mempersiapkan pengganti!

Pak Harto pernah mempersiapkan Habibie sebagai penggantinya. Inilah saatnya SBY melakukan hal serupa. Saya berandai-andai, beranikah SBY menunjuk kader muda potensial partai Demokrat seperti Anas Urbaningrum sebagai calon penerusnya?

SBY memiliki modal besar untuk tugas bersejarah ini. Dan jika tidak meleset dalam pemilihan presiden mendatang, SBY akan sampai di puncak kemashyurannya. Apapun yang dikatakan SBY tentang pengantinya akan didengar orang.

Keberanian SBY akan tuntas jika dia sanggup mempersiapkan kadernya dari sekarang. SBY akan berhak masuk dalam Profiles in Courage versi Indonesia. Dan kita akan mengenang kepemimpinannya.

* * * * *