
Tari Pendet memang berasal dari Indonesia. Reog, batik, angklung dan lagu Rasa Sayange adalah juga berasal dari Indonesia. Namun tanpa disadari bahasa Indonesia, bahasa nasional kita adalah berasal dari Malaysia!
Mungkin ada argumentasi bahwa sebagian bangsa Indonesia dari dulu juga menggunakan bahasa Melayu. Argumentasi ini sangat lemah ditinjau dari sisi jumlah pemakai, maupun sejarah bahasa Melayu.
Sebelum bahasa Indonesia dipergunakan secara luas, hanya ada tiga daerah di Indonesia yang memakai bahasa Melayu, yaitu: suku Melayu di Sumatera Utara, suku Melayu di pulau-pulau di sekitar Riau, dan suku Melayu di Kalimantan Barat. Dan sampai sekarang di ketiga daerah ini masih menggunakan bahasa yang mirip dengan bahasa Melayu di Malaysia. Jadi jika dibandingkan dengan dengan jumlah populasi Indonesia keseluruhan, prosentase populasi suku Melayu di Indonesia adalah sangat kecil.
Lagi pula kalau argumen bahwa fakta keberadaan suku Melayu di Indonesia membuat bangsa Indonesia sah mendaku bahasa Melayu sebagai bahasa nasional adalah argumen yang lemah. Bagaimana dengan keberadaan perantau dari Ponorogo di Johor dan Selangor Malaysia yang membawa seni reog ke sana? Mengapa pula Malaysia tidak bisa mendaku serupa terhadap kesenian reog? Dan perlu diketahui Malaysia tidak mendaku kesenian ini sebagai milik mereka, tapi semata sebagai kebudayaan yang memang ada di sana. Sebagai bandingan adalah kesenian barongsai yang berasal dari Cina yang juga dimainkan secara luas oleh keturunan perantau Cina di Indonesia.
Dari wikipedia http://en.wikipedia.org/wiki/Malay_language dan http://www.articlesbase.com/languages-articles/the-history-of-malay-language-223538.html sejarah perkembangan bahasa Melayu menuju bahasa Melayu yang moderen bisa menjelaskan bahwa bahasa Indonesia ini berasal dari Malaysia.
Memang bahasa Melayu berevolusi dari Melayu kuno ke Melayu modern. Bahasa Melayu kuno adalah bahasa yang dijumpai pada beberapa prasasti seperti Kedukan Bukit yang ditemukan di Palembang, Sumatera Selatan. Namun yang perlu dicatat adalah bahasa ini sama sekali tak dimengerti oleh pengguna bahasa Melayu moderen. Dan jangan lupa bahasa ini juga sangat dipengaruhi bahasa Sansekerta, lingua franca agama Hindu dan Budha. Saya khawatir kalo logika ini diteruskan maka bahasa Melayu itu akan berasal dari india. Dan bahasa India itu akan berakar pada bahasa nenek moyang pertama umat manusia, yaitu di Afrika!
Dari http://melayuonline.com/ind/history/dig/437/batu-bersurat-terengganu dapat dilihat bukti bahwa prasasti pertama berbahasa Melayu ditemukan di Terengganu, Malaysia yang populer disebut Batu Bersurat Terengganu. Prasasti ini bertanggal Jumat, 4 Rajab 702 H atau bertepatan dengan tanggal 22 Februari 1303 M.
Memang beberapa sumber menyebutkan bahwa bahasa Melayu pertama berasal dari Pasai, Aceh. Namun tulisan yang tertulis di makam raja pertama Pasai, Malik as-Saleh yang bertahun 1297 masih berbahasa Arab. Dan sebagai tambahan bahasa Melayu tak pernah berkembang di Aceh dibandingkan di Malaysia.
Adapun bahasa Melayu moderen dipopulerkan oleh Kerajaan Malaka di tahun 1401 – 1511. Pada periode ini cikal bakal bahasa Melayu digunakan secara luas sebagai bahasa perdagangan. Bahasa ini memasukkan semua unsur dari mulai Sansekerta, Arab dan Persia. Dari bahasa Melayu yang dikembangkan di Malaka inilah kemudian berevolusi menjadi berbagai ragam bahasa Melayu moderen.
Memang pendiri kerajaan Malaka itu adalah keturunan kerajaan Sriwijaya dari Indonesia. Namun kalau logika ini diteruskan, maka sebagian besar orang Indonesia adalah dari Yunnan, Cina. Jadi apakah bisa dikatakan semua produk budaya keturunan orang Yunnan yang dibuat di Indonesia adalah milik Cina?
Jadi dilihat dari fakta bahwa prasasti berbahasa Melayu pertama ditemukan di Malaysia dan bahasa Melayu moderen dipopulerkan oleh kerajaan Malaka di Malasia, maka dapat disimpulkan bahwa bahasa Melayu adalah berasal dari Malaysia.
Bahasa Indonesia adalah berakar dari bahasa Melayu. Bahasa Indonesia bukan berakar dari bahasa Jawa, Sunda, Batak ataupun Bugis. Bukti yang paling gampang adalah penutur yang hanya mengerti bahasa Indonesia akan 90% mengerti bahasa Melayu, sebaliknya penutur itu hampir 0% mengerti bahasa Jawa, Sunda, Batak ataupun Bugis.
Sejak tahun 1928, bangsa ini sudah mendaku bahasa yang diciptakan suku Melayu di Malaysia itu sebagai bahasa pemersatu. Bahkan yang lebih gawat lagi, Malaysia hanya mendaku kepemilikan produk budaya melalui promosi wisata, sementara bangsa Indonesia mendaku kepemilikan bahasa Melayu melalui Undang-Undang Dasar 1945.
Jika Indonesia terus berteriak Malaysia sebagai maling budaya, bagaimana kalau mereka berteriak balik bahwa bangsa kita adalah maling bahasa?
* * *
Suatu sumber menyebutkan bahwa Malaysia merasa budaya-budaya dari Indonesia tersebut adalah berasal dari tanah Melayu yang meliputi wilayah Indonesia juga. Jadi produk budaya yang dibuat di Indonesia dianggap sebagai produk budaya bangsa serumpun.
Dalam pergaulan antar bangsa yang telah berlangsung ratusan hingga ribuan tahun, selalu terjadi interaksi. Pemakaian produk budaya bangsa lain sudah biasa terjadi. Dari hasil interaksi itulah banyak produk budaya hibrida kemudian diciptakan.
Adikarya bangsa Indonesia seperti wayang mendapat sumbangan cerita seru Mahabarata dan Ramayana dari bangsa India. Bahkan lagu Rasa Sayange yang berasal dari Indonesia itu mengadopsi pantun Melayu dari Malaysia.
Lalu apakah pemakaian budaya harus meminta ijin? Ini pertanyaan sulit. Apakah bangsa Jepang dulu meminta ijin bangsa Cina waktu mengembangkan permainan Go dan seni tanaman bonsai? Apakah bangsa Indonesia pernah meminta ijin kepada bangsa India atas pemakaian cerita Mahabarata dan Ramayana tersebut? Apakah bangsa Indonesia pernah meminta ijin kepada bangsa Malaysia atas pemakaian produk bahasanya?
Tampaknya bangsa Indonesia harus merelakan budayanya dipakai bahkan mungkin dikembangkan di negara lain.
* * * * *
First Published (30/8/2009)
Tari Pendet memang berasal dari Indonesia. Reog, batik, angklung dan lagu Rasa Sayange adalah juga berasal dari Indonesia. Namun tanpa disadari bahasa Indonesia, bahasa nasional kita adalah berasal dari Malaysia!
Mungkin ada argumentasi bahwa sebagian bangsa Indonesia dari dulu juga menggunakan bahasa Melayu. Argumentasi ini sangat lemah ditinjau dari sisi jumlah pemakai, maupun asal usul suku Melayu di Indonesia.
Sebelum bahasa Indonesia dipergunakan secara luas, hanya ada tiga daerah di Indonesia yang memakai bahasa Melayu, yaitu: suku Melayu di Sumatera Utara, suku Melayu di pulau-pulau di sekitar Riau, dan suku Melayu di Kalimantan Barat. Dan sampai sekarang di ketiga daerah ini masih menggunakan bahasa yang mirip dengan bahasa Melayu di Malaysia. Jadi jika dibandingkan dengan dengan jumlah populasi Indonesia keseluruhan, prosentase populasi suku Melayu di Indonesia adalah sangat kecil.
Dan fakta-fakta lain juga menunjukkan bahwa nenek moyang suku Melayu di Indonesia adalah berasal dari Malaysia. Yang paling menyolok dapat dilihat dari perbedaaan besar budaya antara suku Melayu di Kalimantan Barat dan Sumatera Utara yang sangat berbeda dengan suku asli setempat, yaitu Dayak dan Batak yang tinggal lebih lama di daerah tersebut. Ini menunjukkan suku Melayu adalah pendatang di tempat tersebut. Sementara itu suku Melayu di pulau-pulau sekitar Riau adalah juga berasal dari Malaysia. Suku Melayu di Malaysia terletak di pulau utama (mainland), sedangkan suku Melayu di Riau tinggal di pulau-pulau kecil di sekitar pulau utama. Logika yang masuk akal adalah orang-orang di pulau-pulau kecil itu adalah orang-orang yang berasal dari pulau utama dan bukan sebaliknya.
Argumentasi lain mungkin menyebutkan bahasa Melayu bukan hanya bahasa suku, tapi juga bahasa perdagangan (lingua franca). Sejak dulu bahasa yang digunakan secara luas di masyarakat yang berhubungan secara ekonomi.
Tentu saja argumen tersebut tidak bisa diterima. Andaikan batik sudah mendunia sebagai tren busana internasional. Nelson Mandela tokoh besar dari Afrika Selatan juga suka memakai batik. Cina juga mulai memproduksi batik. Lalu apakah negara-negara tersebut bisa membuat klaim kepemilikan batik? Tentu saja tidak.
Jadi kita harus mengakui bahwa bahasa Indonesia adalah berasal dari bahasa Melayu Malaysia. Bahasa ini terbukti sangat berguna bagi pembentukan bangsa Indonesia. Dan sejak tahun 1928, bangsa ini sudah melakukan klaim terhadap bahasa yang diciptakan suku Melayu Malaysia sebagai bahasa pemersatu. Bahkan yang lebih gawat, Malaysia hanya membuat klaim kepemilikan produk budaya melalui promosi wisata, sementara bangsa Indonesia membuat klaim kepemilikan bahasa Melayu melalui Undang-Undang Dasar 1945.
Jika Indonesia terus berteriak Malaysia sebagai maling budaya, bagaimana kalau mereka berteriak balik bahwa bangsa kita adalah maling bahasa?
* * *
Suatu sumber menyebutkan bahwa Malaysia merasa budaya-budaya dari Indonesia tersebut adalah berasal dari tanah Melayu yang meliputi wilayah Indonesia juga. Jadi produk budaya yang dibuat di Indonesia dianggap sebagai produk budaya bangsa serumpun.
Dalam pergaulan antar bangsa yang telah berlangsung ratusan hingga ribuan tahun, selalu terjadi interaksi. Pemakaian produk budaya bangsa lain sudah biasa terjadi. Dari hasil interaksi itulah banyak produk budaya hibrida kemudian diciptakan.
Adikarya bangsa Indonesia seperti wayang mendapat sumbangan cerita seru Mahabarata dan Ramayana dari bangsa India. Bahkan lagu Rasa Sayange yang berasal dari Indonesia itu mengadopsi pantun Melayu dari Malaysia.
Lalu apakah pemakaian budaya harus meminta ijin? Ini pertanyaan sulit. Apakah bangsa Jepang dulu meminta ijin bangsa Cina waktu mengembangkan permainan Go dan seni tanaman bonsai? Apakah bangsa Indonesia pernah meminta ijin kepada bangsa India atas pemakaian cerita Mahabarata dan Ramayana tersebut? Apakah bangsa Indonesia pernah meminta ijin kepada bangsa Malaysia atas pemakaian produk bahasanya?
Tampaknya bangsa Indonesia harus merelakan budayanya dipakai bahkan mungkin dikembangkan di negara lain.
* * * * *