Friday, May 29, 2009

Mendengar Prabowo

Kalau perusahaan baru berdiri, maka yang paling baik menjadi pemimpin adalah ahli hukum untuk menguruskan legalitas perusahaan. Setelah itu, perusahaan sebaiknya dipimpin oleh ahli pemasaran untuk membuka dan mendapat pangsa pasar. Setelah pasar terbentuk, yang paling tepat memimpin adalah ahli manajemen efisiensi produksi (lean production).

Begitu juga negara. Untuk mendirikan negara, maka yang pas memimpin adalah orator ulung – seperti Bung Karno – untuk membangkitkan persatuan dan persaudaraan bangsa. Setelah negara terbentuk, maka yang pas memimpin adalah administrator ulung dan pakar stabilitas seperti – Pak Harto – untuk mempersiapkan landasan pembangunan. Setelah semuanya terbentuk, maka yang paling pas memimpin negara adalah pemimpin yang memiliki visi ekonomi yang jelas.

Dari visi ketiga calon kandidat presiden saat ini, menurut saya yang paling pas untuk memimpin bangsa ini adalah visinya Prabowo Subianto (... dan Megawati).

Dari sisi target pertumbuhan ekonomi, jelas Prabowo unggul. Prabowo menargetkan 10%, sementara JK 8%, dan sayangnya SBY cuma berani menargetkan 7%. Memang banyak orang menyatakan bahwa target 10% tidak akan tercapai karena tidak realistis, tapi target 7% pun bukan jaminan untuk tercapai dengan mudah. Dengan target 10% itu Prabowo pasti bekerja sangat keras untuk membuktikan target itu bukan mimpi dan rakyat bisa menuntut balik kalau target itu tidak tercapai. Kalau tidak tercapai, minimal Prabowo akan dipermalukan karena asbun.

Prabowo memaparkan misi ekonomi yang konkrit untuk mencapai target hebat tersebut. Beliau menyatakan akan fokus pada pembangunan pertanian. Beliau menargetkan untuk menanam 4 juta lahan aren untuk industri biodiesel. Dan visi ini terintegrasi bagus dengan terciptanya 24 juta lapangan kerja dan biodiesel itu bisa menggantikan impor BBM kita.

Selain itu beliau juga anti menyerahkan semua persoalan kepada mekanisme pasar. Beliau akan menjadikan BUMN sebagai motor penggerak ekonomi bangsa, alih-alih menjualnya kepada pihak asing. Ini juga bagus karena semangat wiraswasta belum ada pada rakyat Indonesia, maka harus ada perusahaan negara yang memimpin di depan untuk menggerakkan bisnis.

Secara ringkas, dari sisi visi ekonomi, SBY itu terlalu normatif, JK sangat praktis dan 'problem solver' lapangan yang hebat, sementara Prabowo memiliki visi dan misi ekonomi yang jelas dan sangat bisa dimengerti.

* * *

Banyak orang mengecam masa lalu Prabowo. Beliau adalah menantu Pak Harto, presiden hebat yang jasa-jasanya dicampakkan oleh bangsanya sendiri. Prabowo juga dianggap terlibat terhadap kasus penculikan aktifis di era Pak Harto.

Peter Drucker dalam The Effective Executive menjelaskan pentingnya kita berpusat pada kekuatan seseorang dan bukan kepada kelemahannya.

Peter Drucker mengisahkan bagaimana Presiden Abraham Lincoln memenangkan perang sipil di AS. Pada suatu masa pasukan Lincoln kalah terus di medan perang. Titik balik kemenangan pasukan Lincoln adalah ketika beliau menunjuk Jendral Grant. Jendral Grant adalah pemimpin perang yang hebat yang memiliki kebiasaan buruk dengan minuman beralkohol. Kelemahan ini bertolak belakang dengan Lincoln yang terkenal sebagai orang yang bersih dan tahu persis bahwa alkohol adalah berakibat buruk bagi kesehatan.

Presiden Lincoln bertekad memilih Jendral Grant karena kekuatan, bukan karena kesempurnaan, bukan karena hidup bersihnya. Pencapai tujuan akan efektif dengan memilih orang yang memiliki kekuatan!

Prabowo mungkin memiliki masa lalu yang tak sempurna, namun saat ini dia adalah calon pemimpin yang memiliki kekuatan visi dan misi ekonomi yang hebat.

Masalah lain yang muncul adalah Prabowo adalah 'cuma' calon wakil presiden. Sementara Megawati adalah calon presiden yang kemampuannya sangat diragukan.

Ada 'blessing in disguise' dalam perpolitikan di Indonesia. Sistem presidensial kita memiliki banyak kelemahan, namun juga menyediakan peluang bagi Prabowo. Paket presiden dan wakil presiden dalam sistem pemerintahan presidensial kita, dapat dengan mudah menjadi paket presiden dan perdana menteri. Megawati bisa menjadi kepala negara, sementara Prabowo bisa menjadi kepala pemerintahan/ perdana menteri.

* * *

Pemimpin harus memancarkan optimisme bagi rakyatnya. Dengan target pertumbuhan ekonomi 10% itu Prabowo telah membangkitkan optimisme kita. Dan yang patut dicatat, Prabobowo sangat paham dengan pertumbuhan ekonomi yang sedang-sedang saja, maka bangsa Indonesia akan begini terus sampai puluhan tahun ke depan. Nasib bagsa Indonesia tidak akan berubah banyak dengan pertumbuhan di bawah 10%. Hanya dengan pertumbuhan dua angka yang konsisten yang dapat menaikkan kesejahteraan dan martabat bangsa Indonesia.

Tidak ada pemimpin yang cocok di segala musim. Dan pada musim ini negara kita sedang membutuhkan pemimpin dengan kecerdasan tinggi, yang berani memasang target yang optimis dan siap dengan rencana logis dan konkrit untuk membangun negara ini. Saya kira memberi kesempatan kepada Prabowo Subianto untuk berkarya bagi bangsa ini adalah sebuah pilihan yang baik.

* * * * *

Wednesday, May 13, 2009

Profiles in Courage versi Indonesia

* SBY For President

Tahun 1955 John F Kennedy mendapat hadiah Putlizer untuk karyanya Profiles in Courage. Buku ini menggambarkan kegigihan 8 Senator Amerika Serikat – yang hidup di jaman, tempat berbeda dan menghadapi masalah yang berbeda pula – dalam mempertahankan idealisme sendiri yang berhadapan dengan partainya sendiri ataupun pendapat umum. Semua Senator ini berani menghadapi semua kritikan tajam, cercaan dari semua orang dan resiko kehilangan popularitas. Buku ini adalah tentang keberanian. Kennedy mengutip Ernest Hemingway yang mengungkapkan “courage is grace under pressure”.

Calon presiden terkuat, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), memilih Boediono sebagai calon wakil presiden (cawapres) dalam pemilihan presiden Republik Indonesia periode 2009 – 2014.

Tindakan berani SBY, yang diluar pakem, yang memilih cawapres yang tidak berasal dari partai politik ini tentu saja mendapat kritikan tajam dari mitra dari koalisi yang baru saja dibina.

Yang patut ditonjolkan dalam preferensi SBY ini adalah Boediono - gubernur Bank Indonesia saat ini - merupakan seorang ekonom yang berpengalaman dan kompeten. Boediono mencerminkan orang yang berhasil memegang jabatan tinggi karena kemampuan teknisnya. Dan SBY memilih Boediono lebih karena alasan teknis.

Dan dengan alasan ini maka SBY terancam kehilangan dukungan banyak pihak termasuk masyarakat. Partai politik yang marah jelas akan menarik dukungan, sedangkan masyarakat akan melihat kombinasi ini tidak ideal secara geografis, karena, sama seperti Letto, keduanya sama-sama wong Jowo.

Pemilihan cawapres seperti Boediono ini membuktikan SBY itu orang yang berani, dan tidak seperti yang dikatakan banyak orang bahwa dia peragu. Keberanian SBY ini membuat ia masuk nominasi Profiles in Courage versi Indonesia. Paling tidak saat ini baru ada satu nama yang pantas masuk daftar, yaitu: Pak Harto!

* * *

Berpolitik itu butuh keberanian. Tapi selain itu berpolitik itu juga harus mengesankan. Ada banyak orang yang memegang jabatan hebat dan tinggi di negeri ini akan segera kita lupakan, karena kita tidak melihat warisan baik yang ia tinggalkan. Berapa banyak pemimpin partai atau politikus yang pada suatu masa berita tentangnya banyak menghiasi media massa, lalu kemudian turun dan menghilang dan kita sama sekali tidak bisa mengenang jasa-jasanya bagi negeri ini.

Tentu saja jalan SBY masih sangat panjang. SBY harus mengatasi kompetitor kuatnya seperti Jusuf Kalla, ataupun Megawati dan Prabowo. Tapi SBY sudah memulai langkah berani pertama.

Melihat keadaan politik sekarang, saya berasumsi SBY akan bisa melanjutkan pemerintahannya, sehingga SBY bisa melanjutkan ke langkah berani berikutnya.

Langkah berani berikutnya yang patut kita tunggu dari presiden mendatang adalah penerapan teknokrasi. Anggota kabinet tidak usah lagi mengambil dari orang-orang partai namun terdiri dari para profesional yang kompeten dalam bidangnya masing-masing. Kabinet di jaman reformasi memiliki banyak ketua ataupun aktifis partai.

Indonesia masih membutuhkan orang yang memiliki kompetensi sangat tinggi untuk membangun berbagai sektor. Orang itu harus sangat menguasai permasalahan secara komprehensif. Sungguh tidak arif dan bijaksana menyerah suatu urusan departemen kepada yang bukan ahlinya seperti ketua /aktifis partai dimana mereka harus belajar dulu sebelum menjalankan tugas. Kalau mereka “quick learner” ya mungkin tidak apa-apa, tapi kalau ternyata mereka memang tidak kompeten yang akan dipertaruhkan dan dirugikan adalah kesejahteraan rakyat.

Sesungguhkan seorang presiden tidak perlu khawatir kekurangan stok orang-orang yang andal pada suatu bidang. Ada banyak bintang-bintang cemerlang yang telah mengabdikan hidupnya di suatu bidang.

Saya memikirkan misalnya Onno W Purbo sebagai Menteri Komunikasi dan Informasi, Fadel Muhammad/ Gamawan Fauzi sebagai Menteri Dalam Negeri, Yohanes Surya/ Anies Baswedan sebagai Menteri Pendidikan, Ulil Abshar-Abdalla sebagai Menteri Agama, Soemanto/ Master Limbad sebagai Menteri Pertahanan Keamanan, Ponari sebagai Menteri Kesehatan. (Tentu saja 2 menteri terakhir tidak benar ;-))

Selanjutnya kita juga berharap SBY melakukan langkah berani terakhir yaitu mempersiapkan kadernya untuk melanjutkan estafet kepemimpinan. Mantan Direktur BRI, Djokosantoso Moeljono pernah mengungkapkan secara indah tugas pemimpin yang pertama, adalah: mempersiapkan pengganti!

Pak Harto pernah mempersiapkan Habibie sebagai penggantinya. Inilah saatnya SBY melakukan hal serupa. Saya berandai-andai, beranikah SBY menunjuk kader muda potensial partai Demokrat seperti Anas Urbaningrum sebagai calon penerusnya?

SBY memiliki modal besar untuk tugas bersejarah ini. Dan jika tidak meleset dalam pemilihan presiden mendatang, SBY akan sampai di puncak kemashyurannya. Apapun yang dikatakan SBY tentang pengantinya akan didengar orang.

Keberanian SBY akan tuntas jika dia sanggup mempersiapkan kadernya dari sekarang. SBY akan berhak masuk dalam Profiles in Courage versi Indonesia. Dan kita akan mengenang kepemimpinannya.

* * * * *

Friday, May 8, 2009

Seks

Kasus Antasari Azhar, ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) benar-benar mengagetkan kita. Sang pahlawan anti korupsi itu dituduh mendalangi pembunuhan seorang pengusaha dengan latar belakang motif kisah asmara segitiga.

Saya – mungkin termasuk banyak orang lain – tidak percaya Pak Antasari melakukan hal tercela ini.

Ada 2 kemungkinan kasus ini, yaitu: Pak Antasari bersalah atau tidak bersalah. Tapi apapun hasil akhirnya tema seks tetap memegang peranan utama.

Kalau Pak Antasari bersalah, maka sudah jelas daya tarik seks begitu kuat, sehingga bisa meruntuhkan iman seseorang. Atau dalam bahasa gaulnya iman boleh kuat, tapi imron ini yang tak kuat. Pater MAW Brouwer bilang pria itu seperti anjing, walaupun di rumah telah disediakan makanan lezat, namun masih juga mengendus-endus kotoran ayam di jalan.

Kalau Pak Antasari tidak bersalah maka aktor di balik konspirasi ini benar-benar memahami psikologi manusia yang sangat terikat kuat dengan tema seks, sehingga orang sangat mudah percaya dengan isu skandal seks ataupun sangat mudah menjebak seorang pahlawan dengan menawarkan seks.

Kasus ini hanya meneguhkan peranan seks sebagai alat utama keberlangsungan hidup manusia. Seks diciptakan alam supaya manusia bisa melanjutkan keturunannya. Sehingga sampai kapanpun, di jaman apapun, seks tetaplah tema utama kemanusiaan.

Mengapa bisa demikian?

* * *

Samuel Butler mengungkapkan ide yang menarik yaitu: “a hen is only the egg's way for making another egg”. Ayam hanyalah sebuah sarana bagi telur untuk membuat telur yang lain. Konsep menarik ini kemudian dikembangkan oleh Sang Jenius, Richard Dawkins, dengan “The Selfish Gene”, Gen Egois. Manusia – seperti seekor ayam – hanyalah sebuah cara bagi gen untuk menggandakan dirinya. Seluruh gerak gerik dinamis manusia di sepanjang sejarah hanyalah manipulasi oleh gen untuk menggandakan dirinya.

Konsep luar biasa ini membalikkan pikiran kita bahwa gen hanya bagian dari organisme. Perspektif kita berubah. Bukanlah organisme yang menjadi aktor utama dalam kehidupan ini, tapi gen lah yang membuat dan mengendalikan aktor utama ini.

Manusia (atau analogi ayam) yang bisa bergerak dinamis tidak usah terlalu ge-er terhadap peranannya dalam kehidupan ini. Pemikiran Descates tentang “saya berpikir, maka saya ada” ataupun pendapat eksistensialis tentang keutamaan eksistensi manusia bisa dicampakkan oleh perspektif kepentingan gen. Pikiran ataupun eksistensi manusia hanyalah alat bertahan hidup bagi gen (atau analogi telur) yang memiliki tujuan utama yang sangat sederhana, yaitu: menggandakan diri!

Tempat alat pengganda ini bekerja secara ideal adalah organisme biologi. Dan setiap organisme ini memiliki masa hidup tertentu. Sebelum organisme tersebut mati, dia harus mempunyai keturunan. Oleh karena itu gen merekayasa lagi teknik penggandaan untuk kepentingan gen sendiri melalui kenikmatan hubungan seks. Dengan sarana ini kelangsungan hidup gen menjadi langgeng.

Evolusi manusia (maupun binatang), baik secara fisik maupun budaya, selalu mengarah pada harapan manusia untuk berhubungan seks. Mengapa para lelaki memamerkan keperkasaannya, senang mencari harta, senang kekuasaan? Mengapa para wanita senantiasa bersolek, mempercantik diri berusaha memikat pria? Semua itu – entah disadari ataupun tidak – adalah demi kesempatan yang lebih besar untuk berhubungan seks dan mendapatkan keturunan.

Hampir seluruh upaya manusia di dunia ini adalah untuk melanggengkan keturunannya dan ini berarti kelanggengan “hidup” gen itu sendiri.

* * *

Seks adalah manipulasi gen pada hidup manusia untuk memperoleh keturunan. Seks – alat ciptaan gen – ini sedemikian dahsyatnya sehingga siapapun bisa tunduk kepada dorongan seks ini.

Kemarin Pak Rhenald Kasali menulis kisah tragis tentang Profesor David Gale penentang hukuman mati yang secara tragis justru dihukum mati karena kasus pemerkosaan. Kemungkinan yang paling besar adalah sang profesor dijebak dan dirayu dengan seorang wanita untuk berhubungan seks.

Begitu juga halnya dengan Martin Luther King yang konon kabarnya mempunyai libido tinggi dan dipaksa oleh FBI untuk bunuh diri setelah direkam berhubungan seks dengan seorang wanita muda.

Ataupun Mahatma Gandhi yang tidur telanjang dengan wanita muda, memang bukan untuk berhubungan seks, tapi menggunakan daya tahan terhadap godaan seks untuk mendapatkan tingkat pengendalian diri yang super hebat.

Seks sebagai alat ciptaan gen untuk menggandakan dirinya sendiri adalah alat yang luar biasa dahsyat. Penggandaan gen adalah dasar dari seluruh aktifitas kita. Maka dari itu waspadalah, karena ada gen di dalam kita – dan bukan semata pikiran kita – yang mengendalikan hidup kita.

* * * * *

Tuesday, April 28, 2009

Resep Ekonom

Seorang ekonom itu seperti dokter. Dokter mendiagnosis penyakit, ekonom mendiagnosis masalah ekonomi. Setelah diagnosis, baik ekonom maupun dokter memberikan resep. Jika resep sesuai pasien sembuh, jika tidak sesuai pasien mati. Begitu pula ekonom, jika resep ekonominya tak manjur, suatu negara bisa masuk jurang krisis yang lebih dalam.

Baru-baru ini terjadi polemik antar ekonom Jepang versus ekonom Amerika Serikat (AS) tentang bagaimana mengatasi krisis ekonomi dunia. Keiichiro Kobayashi versus Paul Krugman.

Bagaikan koor satu suara ekonom negara-negara barat yang mengalami krisis menganjurkan pendekatan kebijakan fiskal yang meliputi pembangunan infrastruktur publik, keringanan pajak, penciptaaan lapangan kerja oleh pemerintah, dll.

Semua resep ini diturunkan dari resep Keynes. Ketika keadaan krisis, kegiatan ekonomi menurun karena permintaan yang menurun. Untuk itu mengatasi hal ini, permintaan perlu dibangkitkan dan pemerintahlah yang cocok sebagai motor penggeraknya.

Apakah krisis yang berlangsung saat ini cukup diatasi dengan stimulus fiskal?

Keiichiro Kobayashi, ekonom Jepang, yang memberikan resep baru yang berbeda dari resep ekonom barat yang semata mengandalkan stimulus fiskal.

Argumennya adalah krisis saat ini disebabkan utang yang tidak terselesaikan (bad debt). Utang ini akibat gelembung ekonomi AS yang dihembuskan oleh 2 (dua) sektor, yaitu teknologi informasi dan perumahan. Dampak dari meletusnya gelembung ekonomi sampai sekarang masih belum terselesaikan yang meninggalkan warisan berupa aset-aset yang tak menghasilkan (nonperforming asset) yang masih mengendap di bank-bank AS dan Eropa. Menurut Kobayashi krisis tak dapat diselesaikan sebelum semua masalah utang ini diselesaikan. Stimulus fiskal hanyalah penyembuhan sesaat yang hanya akan bertahan beberapa tahun. Setelah stimulus ini tidak ada, AS dan Eropa akan kembali mengalami krisis lagi.

Kobayashi memberikan suatu resep berdasarkan pengalaman Jepang. Jepang pernah mengalami krisis serupa di tahun 1990an. Pemerintah Jepang juga melakukan hal yang sama dengan upaya yang dilakukan para pemimpin dunia saat ini, yaitu dengan resep stimulus fiskal. Dengan resep ini ekonomi Jepang tidak menunjukkan gejala perbaikan. Baru setelah pemerintah Jepang membuat 2 (dua) lembaga, yaitu: Resolution and Collection Corp. (RCC) dan Industrial Revitalization Corp. of Japan (IRCJ) yang dibentuk untuk membereskan masalah utang dan merestrukturisasi perusahaan peminjam yang hampir bangkrut, baru ekonomi Jepang bisa bergerak.

Penyelesaian masalah utang akibat pecahnya gelembung ekonomi ini sangat tidak mudah dan membutuhkan waktu dan tenaga yang sangat besar. Inilah yang menyebabkan kritik ekonom barat yang menganggap penyelesaian krisis ekonomi tahun 1990 an di Jepang berjalan begitu lama. Tentu saja penyelesaian masalah utang di AS dan Eropa dalam krisis ini akan lebih lama lagi karena begitu tersebarnya masalah yang melibatkan berbagai lembaga keuangan yang tersebar di seluruh dunia.

Apakah resep ekonom Asia ini diterima begitu saja? Tentu tidak. Paul Krugman pemenang Nobel 2008 langsung menyanggahnya. Krugman menunjukkan grafik bahwa pemulihan ekonomi Jepang tahun 2003 – 2007 disebabkan oleh ekspor yang pada gilirannya berperan meningkatkan konsumsi. Lalu apa peranan bank dalam pemulihan ini?

Sanggahan ini langsung dijawab dengan kontan Kobayashi, kalau semata soal ekpor berperan dalam pemulihan ekonomi Jepang, lalu mengapa kejadian ini tidak terjadi pada akhir tahun 1990 dimana dua mitra dagang Jepang yaitu AS dan Cina mengalami pertumbuhan yang cepat dan permintaan barang Jepang dari kedua negara ini juga besar. Setelah masalah pemindahan aset-aset beracun beres, barulah Jepang bisa meningkatkan ekspornya lagi. Maka faktor utama adalah penyelesaian masalah utang dan pemindahan aset beracun peninggalan pasca meletusnya gelembung ekonomi.

Krugman menjawab kembali Kobayashi dengan menyajikan tabel data sumbangan investasi – sebagai wujud sembuhnya sektor perbankan – terdapat Produk Domestik Bruto (GDP) dan neraca perdagangan – sebagai wujud kinerja ekspor – dari tahun 1992 - 2007. Dari grafik itu terbukti bahwa peran investasi terus menurun, sementara peran ekspor meningkat. Adapun Krugman ingin ditunjukkan dengan data bahwa di tahun 1990, Jepang tidak bisa memanfaatkan peluang ekspor karena perusahaan kesulitan mendapatkan kredit dari bank. Dan sampai tulisan ini dibuat, belum ada jawaban dari Kobayashi.

* * *

Polemik antar ekonom ini adalah penegasan, ekonomi sama sekali bukan sekedar hitungan matematika. Kebijakan ekonomi apalagi untuk menghadapi krisis bukanlah perumusan yang mudah. Ada terlalu banyak faktor terkait yang kompleks yang harus dicermati untuk membuat resep. Makanya tidak berlebihan kalau dikatakan ilmu ekonomi telah mati, karena banyaknya teori yang ada tidak memadai lagi untuk menghadapi tantangan masa kini.

Kobayashi belum tentu benar, begitu juga dengan Krugman. Tapi yang penting dicatat Kobayashi memberikan analisis terhadap suatu kebijakan yang baru akan atau sedang dilaksanakan di tahap awal, bukan analisis suatu yang telah terjadi. Dan Kobayashi berani memberikan resep baru yang menantang.

Indonesia telah mengalami pengalaman pahit dengan menerima resep IMF bulat-bulat. Boro-boro sembuh, justru krisis tambah tak terkendali dan malah Pak Harto sebagai pasien terjungkal dari kekuasaannya. Kita sangat membutuhkan ekonom-ekonom dengan resep brilian ditunjang dengan analisis yang kuat yang mungkin berbeda dengan arus utama resep ekonom barat.

* * * * *

Bahan-bahan:

1. http://www.voxeu.org/index.php?q=node/3385
2. http://krugman.blogs.nytimes.com/2009/04/02/japans-recovery/
3. http://www.asahi.com/english/Herald-asahi/TKY200904220066.html
4. http://krugman.blogs.nytimes.com/2009/04/27/japans-recovery-again/

Wednesday, April 22, 2009

Budaya Berpengaruh!

Mengapa sosialisme cocok di Amerika Latin, sementara liberalisme sangat cocok di Amerika Serikat (AS)? Mengapa orang Jepang berhasil dalam produksi mobil, tapi tidak bisa menciptakan Microsoft dan Google? Mengapa Cina berhasil dengan sistem politik diktator satu partai dan pengembangan industri dengan kebijakan kawasan ekonomi khusus? Mengapa Singapura dengan pemerintahan diktator cerdas adalah negara yang paling inovatif di dunia?

Jawabannya adalah kegiatan politik dan ekonomi yang dikembangkan cocok dengan karakter budaya bangsa tersebut. Culture does matter!

Adalah Geert Hofstede pahlawan dari semua pengetahuan ini. Dia melakukan riset perbedaan budaya di kantor cabang IBM di 64 negara. Kemudian riset ini pada pelajar di 23 negara, pada kelompok atas di 19 negara, pada pilot di 23 negara dan pada konsumen kelas atas di 15 negara.

Hasilnya adalah 5 dimensi budaya, yaitu:

1. Power Distance/Jarak Kekuasaan menyangkut tingkat kesetaraan masyarakat dalam kekuasaan. Jarak kekuasaan yang kecil menunjukkan masyarakat yang setara. Semua pihak kekuataanya relatif sama.

2. Individualism/Individualisme vs Collectivism/Kolektivisme menyangkut ikatan sosial di masyarakat. Pada masyarakat yang individual setiap pihak diharapkan mengurus dirinya sendiri dan keluarganya secara mandiri.

3. Masculinity/Maskulin vs Femininity/Feminin yang menyangkut perbedaan gaya antara 2 jenis kelamin. Pada budaya maskulin yang ditonjolkan adalah ketegasan dan kompetitif, sedangkan pada wanita adalah kesopanan dan perhatian.

4. Uncertainty Avoidance/ Penghindaran Ketidakpastian yang menunjukkan rasa nyaman suatu budaya terhadap ketidakpastian.

5. Long-term Orientation/ Orientasi Jangka Panjang menyangkut pola pikir masyarakat. Pada masyarakat yang beorientasi jangka panjang yang ditonjolkan adalah sikap hemat dan ketekunan.

* * *

Sosialisme cocok dengan masyarakat Amerika Latin, karena masyarakat di sana memang lebih menyukai kerja kolektif. Dari ukuran indeks individualisme kebanyakan negara Amerika Latin menempati posisi terbawah. Ini sangat kontras dengan Amerika Serikat (AS) yang berada di posisi teratas dalam hal individualisme.

Jepang adalah negara paling maskulin yang sangat cocok untuk iklim bisnis yang kompetisi dan efisien. Maka tak heran Toyota akhirnya berhasil mengalahkan raksasa-raksasa industri mobil AS. Namun bangsa Jepang tidak menyukai ketidakpastian, maka dari itu tidak cocok untuk melakukan inovasi dasar. Sementara bangsa AS menyukai ketidakpastian, maka dari itu inovasi-inovasi hebat berasal dari AS. Google dan Microsoft hanya cocok tumbuh di AS. Dan bangsa yang paling tinggi menyukai ketidakpastian adalah Singapura. Dan hasilnya sekarang Singapura adalah negara yang paling inovatif di dunia.

Negara-negara Asia cenderung memiliki indeks jarak kekuasaan yang tinggi, maka dari itu pemerintahan yang berpusat pada seorang tokoh sangat cocok di negara-negara ini. Sistem pemerintahan yang cocok adalah sistem yang memberi kekuasaan yang besar kepada seorang tokoh. Ketika masyarakat yang memiliki budaya yang tidak setara, maka pemberian tanggung jawab menjadi tidak cocok. Budaya yang berlaku di sini adalah budaya menerima petunjuk.

Cina dan Singapura adalah negara yang gampang menerima ketidakpastian, maka kedua negara memiliki potensi untuk melakukan inovasi dasar. Toh Cina menemukan banyak hal di jaman kuno seperti kertas, mesiu dan kompas. Namun inovasi saat ini tidak mungkin dilakukan individu secara sendirian. Inovasi adalah pertemuan-pertemuan orang-orang cerdas dan riset-riset terdepan. Bill Gates tak akan bisa menciptakan Microsoft jika perangkat keras komputer pribadi tidak ditemukan.

Singapura bisa menjadi negara paling inovatif di dunia karena negara ini sejak lama terbuka dalam pergaulan dengan bangsa-bangsa lain, sementara Cina sudah lama menutup diri. Maka dari itu ketika Cina dibuka oleh Deng Xiaoping, kawasan ekonomi khusus diciptakan, investasi asing masuk, ekonomi Cina langsung bergerak. Dan hampir dipastikan Cina akan berhasil membuat inovasi-inovasi baru setelah pengetahuan dari Barat berhasil disadap. Saat ini Pemerintah Cina mengijinkan Microsoft mengeluarkan sertifikat keahlian bagi ilmuan-ilmuan Cina.

Faktor budaya juga bisa menjelaskan mengapa bisnis AS sangat rentan mengalami krisis. Bisnis AS cenderung mengalami krisis, karena faktor budaya bisnis di sana. Survei yang dilakukan antara tahun 1995 – 2002 di 17 negara, pemimpin bisnis di AS dinilai oleh junior manajernya di 16 negara yang lain sebagai orang yang mengejar: (i) pertumbuhan bisnis, (ii) kekayaan pribadi, (iii) keuntungan tahun ini dan (iv) kekuasaan. Intinya pemimpin bisnis AS berorientasi jangka pendek.

* * *

Pembangunan politik dan ekonomi Indonesia seharusnya memperhatikan aspek budaya.

Politik Indonesia boleh sombong dengan demokrasi yang melibatkan banyak partai politik, tapi esensi pelaksanaannya tetap saja menggelikan. Toh akhirnya yang berpengaruh adalah ketokohan. Orang tidak memilih partai dengan program terbagus, tapi tokoh yang dianggap dapat mengayomi. Ini adalah cermin budaya masyarakat yang tidak setara, masyarakat dengan indeks jarak kekuasan yang besar. Untuk mendapatkan hasil terbaik politik Indonesia sebaiknya belajar dari politik Cina dan Singapura.

Ekonomi Indonesia sebaiknya saat ini tidak usah terlalu berfokus pada industri besar yang menuntut delegasi wewenang kepada banyak pihak, karena budaya Indonesia yang cenderung minta petunjuk. Sebagai gantinya industri besar itu sebaiknya diberikan bagi pemain-pemain asing dengan menyediakan kawasan ekonomi khusus seperti yang dilakukan Cina. Bangsa Indonesia sebaiknya belajar dulu dari praktek terbaik dari berbagai bangsa. Pengembangan industri seperti Toyota Kijang mungkin merupakan praktek yang lebih baik daripada mengembangkan mobil nasional sendiri.

Saya tidak tahu apakah budaya bisa diubah atau tidak. Mungkin bisa, namun perubahan itu tidak mungkin dilakukan secara cepat. Jadi sebaiknya gerak langkah politik dan ekonomi kita yang menyesuaikan diri dengan faktor budaya yang berlaku saat ini.

* * * * *