Friday, May 8, 2009

Seks

Kasus Antasari Azhar, ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) benar-benar mengagetkan kita. Sang pahlawan anti korupsi itu dituduh mendalangi pembunuhan seorang pengusaha dengan latar belakang motif kisah asmara segitiga.

Saya – mungkin termasuk banyak orang lain – tidak percaya Pak Antasari melakukan hal tercela ini.

Ada 2 kemungkinan kasus ini, yaitu: Pak Antasari bersalah atau tidak bersalah. Tapi apapun hasil akhirnya tema seks tetap memegang peranan utama.

Kalau Pak Antasari bersalah, maka sudah jelas daya tarik seks begitu kuat, sehingga bisa meruntuhkan iman seseorang. Atau dalam bahasa gaulnya iman boleh kuat, tapi imron ini yang tak kuat. Pater MAW Brouwer bilang pria itu seperti anjing, walaupun di rumah telah disediakan makanan lezat, namun masih juga mengendus-endus kotoran ayam di jalan.

Kalau Pak Antasari tidak bersalah maka aktor di balik konspirasi ini benar-benar memahami psikologi manusia yang sangat terikat kuat dengan tema seks, sehingga orang sangat mudah percaya dengan isu skandal seks ataupun sangat mudah menjebak seorang pahlawan dengan menawarkan seks.

Kasus ini hanya meneguhkan peranan seks sebagai alat utama keberlangsungan hidup manusia. Seks diciptakan alam supaya manusia bisa melanjutkan keturunannya. Sehingga sampai kapanpun, di jaman apapun, seks tetaplah tema utama kemanusiaan.

Mengapa bisa demikian?

* * *

Samuel Butler mengungkapkan ide yang menarik yaitu: “a hen is only the egg's way for making another egg”. Ayam hanyalah sebuah sarana bagi telur untuk membuat telur yang lain. Konsep menarik ini kemudian dikembangkan oleh Sang Jenius, Richard Dawkins, dengan “The Selfish Gene”, Gen Egois. Manusia – seperti seekor ayam – hanyalah sebuah cara bagi gen untuk menggandakan dirinya. Seluruh gerak gerik dinamis manusia di sepanjang sejarah hanyalah manipulasi oleh gen untuk menggandakan dirinya.

Konsep luar biasa ini membalikkan pikiran kita bahwa gen hanya bagian dari organisme. Perspektif kita berubah. Bukanlah organisme yang menjadi aktor utama dalam kehidupan ini, tapi gen lah yang membuat dan mengendalikan aktor utama ini.

Manusia (atau analogi ayam) yang bisa bergerak dinamis tidak usah terlalu ge-er terhadap peranannya dalam kehidupan ini. Pemikiran Descates tentang “saya berpikir, maka saya ada” ataupun pendapat eksistensialis tentang keutamaan eksistensi manusia bisa dicampakkan oleh perspektif kepentingan gen. Pikiran ataupun eksistensi manusia hanyalah alat bertahan hidup bagi gen (atau analogi telur) yang memiliki tujuan utama yang sangat sederhana, yaitu: menggandakan diri!

Tempat alat pengganda ini bekerja secara ideal adalah organisme biologi. Dan setiap organisme ini memiliki masa hidup tertentu. Sebelum organisme tersebut mati, dia harus mempunyai keturunan. Oleh karena itu gen merekayasa lagi teknik penggandaan untuk kepentingan gen sendiri melalui kenikmatan hubungan seks. Dengan sarana ini kelangsungan hidup gen menjadi langgeng.

Evolusi manusia (maupun binatang), baik secara fisik maupun budaya, selalu mengarah pada harapan manusia untuk berhubungan seks. Mengapa para lelaki memamerkan keperkasaannya, senang mencari harta, senang kekuasaan? Mengapa para wanita senantiasa bersolek, mempercantik diri berusaha memikat pria? Semua itu – entah disadari ataupun tidak – adalah demi kesempatan yang lebih besar untuk berhubungan seks dan mendapatkan keturunan.

Hampir seluruh upaya manusia di dunia ini adalah untuk melanggengkan keturunannya dan ini berarti kelanggengan “hidup” gen itu sendiri.

* * *

Seks adalah manipulasi gen pada hidup manusia untuk memperoleh keturunan. Seks – alat ciptaan gen – ini sedemikian dahsyatnya sehingga siapapun bisa tunduk kepada dorongan seks ini.

Kemarin Pak Rhenald Kasali menulis kisah tragis tentang Profesor David Gale penentang hukuman mati yang secara tragis justru dihukum mati karena kasus pemerkosaan. Kemungkinan yang paling besar adalah sang profesor dijebak dan dirayu dengan seorang wanita untuk berhubungan seks.

Begitu juga halnya dengan Martin Luther King yang konon kabarnya mempunyai libido tinggi dan dipaksa oleh FBI untuk bunuh diri setelah direkam berhubungan seks dengan seorang wanita muda.

Ataupun Mahatma Gandhi yang tidur telanjang dengan wanita muda, memang bukan untuk berhubungan seks, tapi menggunakan daya tahan terhadap godaan seks untuk mendapatkan tingkat pengendalian diri yang super hebat.

Seks sebagai alat ciptaan gen untuk menggandakan dirinya sendiri adalah alat yang luar biasa dahsyat. Penggandaan gen adalah dasar dari seluruh aktifitas kita. Maka dari itu waspadalah, karena ada gen di dalam kita – dan bukan semata pikiran kita – yang mengendalikan hidup kita.

* * * * *

Tuesday, April 28, 2009

Resep Ekonom

Seorang ekonom itu seperti dokter. Dokter mendiagnosis penyakit, ekonom mendiagnosis masalah ekonomi. Setelah diagnosis, baik ekonom maupun dokter memberikan resep. Jika resep sesuai pasien sembuh, jika tidak sesuai pasien mati. Begitu pula ekonom, jika resep ekonominya tak manjur, suatu negara bisa masuk jurang krisis yang lebih dalam.

Baru-baru ini terjadi polemik antar ekonom Jepang versus ekonom Amerika Serikat (AS) tentang bagaimana mengatasi krisis ekonomi dunia. Keiichiro Kobayashi versus Paul Krugman.

Bagaikan koor satu suara ekonom negara-negara barat yang mengalami krisis menganjurkan pendekatan kebijakan fiskal yang meliputi pembangunan infrastruktur publik, keringanan pajak, penciptaaan lapangan kerja oleh pemerintah, dll.

Semua resep ini diturunkan dari resep Keynes. Ketika keadaan krisis, kegiatan ekonomi menurun karena permintaan yang menurun. Untuk itu mengatasi hal ini, permintaan perlu dibangkitkan dan pemerintahlah yang cocok sebagai motor penggeraknya.

Apakah krisis yang berlangsung saat ini cukup diatasi dengan stimulus fiskal?

Keiichiro Kobayashi, ekonom Jepang, yang memberikan resep baru yang berbeda dari resep ekonom barat yang semata mengandalkan stimulus fiskal.

Argumennya adalah krisis saat ini disebabkan utang yang tidak terselesaikan (bad debt). Utang ini akibat gelembung ekonomi AS yang dihembuskan oleh 2 (dua) sektor, yaitu teknologi informasi dan perumahan. Dampak dari meletusnya gelembung ekonomi sampai sekarang masih belum terselesaikan yang meninggalkan warisan berupa aset-aset yang tak menghasilkan (nonperforming asset) yang masih mengendap di bank-bank AS dan Eropa. Menurut Kobayashi krisis tak dapat diselesaikan sebelum semua masalah utang ini diselesaikan. Stimulus fiskal hanyalah penyembuhan sesaat yang hanya akan bertahan beberapa tahun. Setelah stimulus ini tidak ada, AS dan Eropa akan kembali mengalami krisis lagi.

Kobayashi memberikan suatu resep berdasarkan pengalaman Jepang. Jepang pernah mengalami krisis serupa di tahun 1990an. Pemerintah Jepang juga melakukan hal yang sama dengan upaya yang dilakukan para pemimpin dunia saat ini, yaitu dengan resep stimulus fiskal. Dengan resep ini ekonomi Jepang tidak menunjukkan gejala perbaikan. Baru setelah pemerintah Jepang membuat 2 (dua) lembaga, yaitu: Resolution and Collection Corp. (RCC) dan Industrial Revitalization Corp. of Japan (IRCJ) yang dibentuk untuk membereskan masalah utang dan merestrukturisasi perusahaan peminjam yang hampir bangkrut, baru ekonomi Jepang bisa bergerak.

Penyelesaian masalah utang akibat pecahnya gelembung ekonomi ini sangat tidak mudah dan membutuhkan waktu dan tenaga yang sangat besar. Inilah yang menyebabkan kritik ekonom barat yang menganggap penyelesaian krisis ekonomi tahun 1990 an di Jepang berjalan begitu lama. Tentu saja penyelesaian masalah utang di AS dan Eropa dalam krisis ini akan lebih lama lagi karena begitu tersebarnya masalah yang melibatkan berbagai lembaga keuangan yang tersebar di seluruh dunia.

Apakah resep ekonom Asia ini diterima begitu saja? Tentu tidak. Paul Krugman pemenang Nobel 2008 langsung menyanggahnya. Krugman menunjukkan grafik bahwa pemulihan ekonomi Jepang tahun 2003 – 2007 disebabkan oleh ekspor yang pada gilirannya berperan meningkatkan konsumsi. Lalu apa peranan bank dalam pemulihan ini?

Sanggahan ini langsung dijawab dengan kontan Kobayashi, kalau semata soal ekpor berperan dalam pemulihan ekonomi Jepang, lalu mengapa kejadian ini tidak terjadi pada akhir tahun 1990 dimana dua mitra dagang Jepang yaitu AS dan Cina mengalami pertumbuhan yang cepat dan permintaan barang Jepang dari kedua negara ini juga besar. Setelah masalah pemindahan aset-aset beracun beres, barulah Jepang bisa meningkatkan ekspornya lagi. Maka faktor utama adalah penyelesaian masalah utang dan pemindahan aset beracun peninggalan pasca meletusnya gelembung ekonomi.

Krugman menjawab kembali Kobayashi dengan menyajikan tabel data sumbangan investasi – sebagai wujud sembuhnya sektor perbankan – terdapat Produk Domestik Bruto (GDP) dan neraca perdagangan – sebagai wujud kinerja ekspor – dari tahun 1992 - 2007. Dari grafik itu terbukti bahwa peran investasi terus menurun, sementara peran ekspor meningkat. Adapun Krugman ingin ditunjukkan dengan data bahwa di tahun 1990, Jepang tidak bisa memanfaatkan peluang ekspor karena perusahaan kesulitan mendapatkan kredit dari bank. Dan sampai tulisan ini dibuat, belum ada jawaban dari Kobayashi.

* * *

Polemik antar ekonom ini adalah penegasan, ekonomi sama sekali bukan sekedar hitungan matematika. Kebijakan ekonomi apalagi untuk menghadapi krisis bukanlah perumusan yang mudah. Ada terlalu banyak faktor terkait yang kompleks yang harus dicermati untuk membuat resep. Makanya tidak berlebihan kalau dikatakan ilmu ekonomi telah mati, karena banyaknya teori yang ada tidak memadai lagi untuk menghadapi tantangan masa kini.

Kobayashi belum tentu benar, begitu juga dengan Krugman. Tapi yang penting dicatat Kobayashi memberikan analisis terhadap suatu kebijakan yang baru akan atau sedang dilaksanakan di tahap awal, bukan analisis suatu yang telah terjadi. Dan Kobayashi berani memberikan resep baru yang menantang.

Indonesia telah mengalami pengalaman pahit dengan menerima resep IMF bulat-bulat. Boro-boro sembuh, justru krisis tambah tak terkendali dan malah Pak Harto sebagai pasien terjungkal dari kekuasaannya. Kita sangat membutuhkan ekonom-ekonom dengan resep brilian ditunjang dengan analisis yang kuat yang mungkin berbeda dengan arus utama resep ekonom barat.

* * * * *

Bahan-bahan:

1. http://www.voxeu.org/index.php?q=node/3385
2. http://krugman.blogs.nytimes.com/2009/04/02/japans-recovery/
3. http://www.asahi.com/english/Herald-asahi/TKY200904220066.html
4. http://krugman.blogs.nytimes.com/2009/04/27/japans-recovery-again/

Wednesday, April 22, 2009

Budaya Berpengaruh!

Mengapa sosialisme cocok di Amerika Latin, sementara liberalisme sangat cocok di Amerika Serikat (AS)? Mengapa orang Jepang berhasil dalam produksi mobil, tapi tidak bisa menciptakan Microsoft dan Google? Mengapa Cina berhasil dengan sistem politik diktator satu partai dan pengembangan industri dengan kebijakan kawasan ekonomi khusus? Mengapa Singapura dengan pemerintahan diktator cerdas adalah negara yang paling inovatif di dunia?

Jawabannya adalah kegiatan politik dan ekonomi yang dikembangkan cocok dengan karakter budaya bangsa tersebut. Culture does matter!

Adalah Geert Hofstede pahlawan dari semua pengetahuan ini. Dia melakukan riset perbedaan budaya di kantor cabang IBM di 64 negara. Kemudian riset ini pada pelajar di 23 negara, pada kelompok atas di 19 negara, pada pilot di 23 negara dan pada konsumen kelas atas di 15 negara.

Hasilnya adalah 5 dimensi budaya, yaitu:

1. Power Distance/Jarak Kekuasaan menyangkut tingkat kesetaraan masyarakat dalam kekuasaan. Jarak kekuasaan yang kecil menunjukkan masyarakat yang setara. Semua pihak kekuataanya relatif sama.

2. Individualism/Individualisme vs Collectivism/Kolektivisme menyangkut ikatan sosial di masyarakat. Pada masyarakat yang individual setiap pihak diharapkan mengurus dirinya sendiri dan keluarganya secara mandiri.

3. Masculinity/Maskulin vs Femininity/Feminin yang menyangkut perbedaan gaya antara 2 jenis kelamin. Pada budaya maskulin yang ditonjolkan adalah ketegasan dan kompetitif, sedangkan pada wanita adalah kesopanan dan perhatian.

4. Uncertainty Avoidance/ Penghindaran Ketidakpastian yang menunjukkan rasa nyaman suatu budaya terhadap ketidakpastian.

5. Long-term Orientation/ Orientasi Jangka Panjang menyangkut pola pikir masyarakat. Pada masyarakat yang beorientasi jangka panjang yang ditonjolkan adalah sikap hemat dan ketekunan.

* * *

Sosialisme cocok dengan masyarakat Amerika Latin, karena masyarakat di sana memang lebih menyukai kerja kolektif. Dari ukuran indeks individualisme kebanyakan negara Amerika Latin menempati posisi terbawah. Ini sangat kontras dengan Amerika Serikat (AS) yang berada di posisi teratas dalam hal individualisme.

Jepang adalah negara paling maskulin yang sangat cocok untuk iklim bisnis yang kompetisi dan efisien. Maka tak heran Toyota akhirnya berhasil mengalahkan raksasa-raksasa industri mobil AS. Namun bangsa Jepang tidak menyukai ketidakpastian, maka dari itu tidak cocok untuk melakukan inovasi dasar. Sementara bangsa AS menyukai ketidakpastian, maka dari itu inovasi-inovasi hebat berasal dari AS. Google dan Microsoft hanya cocok tumbuh di AS. Dan bangsa yang paling tinggi menyukai ketidakpastian adalah Singapura. Dan hasilnya sekarang Singapura adalah negara yang paling inovatif di dunia.

Negara-negara Asia cenderung memiliki indeks jarak kekuasaan yang tinggi, maka dari itu pemerintahan yang berpusat pada seorang tokoh sangat cocok di negara-negara ini. Sistem pemerintahan yang cocok adalah sistem yang memberi kekuasaan yang besar kepada seorang tokoh. Ketika masyarakat yang memiliki budaya yang tidak setara, maka pemberian tanggung jawab menjadi tidak cocok. Budaya yang berlaku di sini adalah budaya menerima petunjuk.

Cina dan Singapura adalah negara yang gampang menerima ketidakpastian, maka kedua negara memiliki potensi untuk melakukan inovasi dasar. Toh Cina menemukan banyak hal di jaman kuno seperti kertas, mesiu dan kompas. Namun inovasi saat ini tidak mungkin dilakukan individu secara sendirian. Inovasi adalah pertemuan-pertemuan orang-orang cerdas dan riset-riset terdepan. Bill Gates tak akan bisa menciptakan Microsoft jika perangkat keras komputer pribadi tidak ditemukan.

Singapura bisa menjadi negara paling inovatif di dunia karena negara ini sejak lama terbuka dalam pergaulan dengan bangsa-bangsa lain, sementara Cina sudah lama menutup diri. Maka dari itu ketika Cina dibuka oleh Deng Xiaoping, kawasan ekonomi khusus diciptakan, investasi asing masuk, ekonomi Cina langsung bergerak. Dan hampir dipastikan Cina akan berhasil membuat inovasi-inovasi baru setelah pengetahuan dari Barat berhasil disadap. Saat ini Pemerintah Cina mengijinkan Microsoft mengeluarkan sertifikat keahlian bagi ilmuan-ilmuan Cina.

Faktor budaya juga bisa menjelaskan mengapa bisnis AS sangat rentan mengalami krisis. Bisnis AS cenderung mengalami krisis, karena faktor budaya bisnis di sana. Survei yang dilakukan antara tahun 1995 – 2002 di 17 negara, pemimpin bisnis di AS dinilai oleh junior manajernya di 16 negara yang lain sebagai orang yang mengejar: (i) pertumbuhan bisnis, (ii) kekayaan pribadi, (iii) keuntungan tahun ini dan (iv) kekuasaan. Intinya pemimpin bisnis AS berorientasi jangka pendek.

* * *

Pembangunan politik dan ekonomi Indonesia seharusnya memperhatikan aspek budaya.

Politik Indonesia boleh sombong dengan demokrasi yang melibatkan banyak partai politik, tapi esensi pelaksanaannya tetap saja menggelikan. Toh akhirnya yang berpengaruh adalah ketokohan. Orang tidak memilih partai dengan program terbagus, tapi tokoh yang dianggap dapat mengayomi. Ini adalah cermin budaya masyarakat yang tidak setara, masyarakat dengan indeks jarak kekuasan yang besar. Untuk mendapatkan hasil terbaik politik Indonesia sebaiknya belajar dari politik Cina dan Singapura.

Ekonomi Indonesia sebaiknya saat ini tidak usah terlalu berfokus pada industri besar yang menuntut delegasi wewenang kepada banyak pihak, karena budaya Indonesia yang cenderung minta petunjuk. Sebagai gantinya industri besar itu sebaiknya diberikan bagi pemain-pemain asing dengan menyediakan kawasan ekonomi khusus seperti yang dilakukan Cina. Bangsa Indonesia sebaiknya belajar dulu dari praktek terbaik dari berbagai bangsa. Pengembangan industri seperti Toyota Kijang mungkin merupakan praktek yang lebih baik daripada mengembangkan mobil nasional sendiri.

Saya tidak tahu apakah budaya bisa diubah atau tidak. Mungkin bisa, namun perubahan itu tidak mungkin dilakukan secara cepat. Jadi sebaiknya gerak langkah politik dan ekonomi kita yang menyesuaikan diri dengan faktor budaya yang berlaku saat ini.

* * * * *

Geert Hofstede

Geert Hofstede, ahli kebudayaan negeri Belanda, melakukan riset perbedaan budaya di kantor cabang IBM di 64 negara kemudian diteruskan pada studi pelajar di 23 negara, studi kelompok atas pada 19 negara, studi pada pilot di 23 negara dan studi pada konsumen kelas atas di 15 negara.

Hasilnya 5 dimensi budaya, yaitu:

1. Power Distance/Jarak Kekuasaan menyangkut tingkat kesetaraan masyarakat dalam kekuasaan. Jarak kekuasaan yang kecil menunjukkan masyarakat yang setara. Semua pihak kekuataanya relatif sama.

Indonesia bersama Ekuador urutan ke 8/9 dari 53 negara yang menunjukkan jarak kekuasaan masih tinggi. Ada perbedaan yang mencolok antara orang yang berkuasa secara budaya ataupun politik terhadap orang yang tidak punya kuasa. Sebagai perbandingan masyarakat yang paling setara adalah Austria dan no. 2 adalah Israel.

Hal positif dari masing-masing perbedaan budaya ini adalah:

Jarak Kekuasaan kecil maka orang pada budaya tersebut mudah menerima tanggungjawab. Sementara pada Jarak Keuasaan besar maka orang lebih disiplin karena rasa takut akan kekuasaan.

2. Individualism/Individualisme vs Collectivism/Kolektivisme menyangkut ikatan di masyarakat. Pada masyarakat yang individual setiap pihak diharapkan mengurus dirinya sendiri dan keluarganya secara mandiri.

Indonesia bersama Pakistan ada di urutan 47/48 dari 53 negara yang menunjukkan orang Indonesia cenderung hidup secara berkelompok. Ini cocok dengan semboyan kita: gotong royong. Sebagai perbandingan negara yang paling individual adalah Amerika Serikat dan no.2 adalah Australia.

Hal positif dari masing-masing perbedaan budaya ini adalah:

Kolektivisme maka orang/karyawan pada budaya tersebut mudah berkomitmen. Sementara pada Individulisme maka pemberian wewenang manajemen lebih mudah disebarluaskan, karena pepimpin-pemimpin baru mudah diciptakan.

3. Masculinity/Maskulin vs Femininity/Feminin yang menyangkut perbedaan gaya antara 2 jenis kelamin. Pada budaya maskulin yang ditonjolkan adalah ketegasan dan kompetitif, sedangkan pada wanita adalah kesopanan dan perhatian.

Indonesia bersama Afrika Barat ada di urutan 30/31 dari 53 negara. Ini menunjukkan Indonesia dalam posisi sedang-sedang saja. Sebagai perbandingan yang paling maskulin adalah Jepang dan yang paling feminin adalah Swedia. Pantaslah Swedia adalah negara dengan tingkat kekerasan terhadap perempuan yang paling kecil di dunia.

Hal positif dari masing-masing perbedaan budaya ini adalah:

Pada budaya Maskulin maka orang pada budaya tersebut cocok untuk produksi massal, efisiensi, industri berat dan bulk chemistry. Sementara pada budaya Feminin cocok untuk industri pelayanan pribadi, produksi yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan, pertanian dan biochemistry.

4. Uncertainty Avoidance/ Penghindaran Ketidakpastian yang menunjukkan rasa nyaman suatu budaya terhadap ketidakpastian.

Indonesia bersama Kanada berada di urutan 41/42 dari 53 negara. Ini berarti Indonesia tidak takut dengan perubahan dan lebih toleran terhadap perbedaan pendapat. Sebagai perbandingan Singapura adalah negara yang paling bisa menerima ketidakpastian dan Yunani adalah negara yang tidak.

Hal positif dari masing-masing perbedaan budaya ini adalah:

Budaya Penghindaran ketidakpastian besar maka orang pada budaya tersebut cocok untuk hal yang menuntut presisi. Sementara pada budaya Penghindaran ketidakpastian kecil cocok untuk melakukan inovasi dasar.

5. Long-term Orientation/ Orientasi Jangka Panjang menyangkut pola pikir masyarakat. Pada masyarakat yang beorientasi jangka panjang yang ditonjolkan adalah status, sikap hemat dan ketekunan dan memiliki rasa malu yang tinggi.

Cina, Jepang dan negara-negara Asia cenderung memiliki orientasi jangka panjang, sementara bangsa-bangsa barat cenderung pada jangka pendek. Dan negara yang sangat tertinggal juga cenderung memiliki orientasi jangka pendek. Pada budaya ini Cina memegang skor tertinggi, sementara Pakistan adalah skor terendah.

Website Geert Hofstede:

http://www.geert-hofstede.com/

baca juga:

http://erwinwirawan.blogspot.com/2009/04/budaya-berpengaruh.html

Thursday, April 16, 2009

Masalah 'Trust' dan Kapasitas Neokorteks pada Bangsa Indonesia

Apa persamaan pertandingan sepakbola dengan pemilu di Indonesia? Kalau pada sepakbola, kesebelasan yang kalah akan mengejar dan meninju wasit, sedangkan pada pemilu pihak yang kalah akan mengejar KPU plus pemerintah dan menyalahkan DPT.

Bangsa Indonesia bermasalah dalam dinamika hidup bersama termasuk berkompetisi secara sehat. Kita tidak siap menerima kekalahan. Ketika gagal dalam kongres atau dalam muktamar, pihak yang kalah akan menggembosi pihak yang menang. Hampir jarang ada ucapan selamat yang sportif dan rasa ikhlas untuk mendukung pihak yang menang.

Maka tidak heran kalau kita selalu menyaksikan hal-hal lucu dan kekanakan dalam menyikapi hasil suatu kompetisi. Ini adalah masalah serius yang harus dianalisis dengan serius pula. Mengapa hal ini berulang-ulang terjadi.

Paling tidak ada 2 masalah pada bangsa ini, yaitu: (1) Trust, (2) Kapasitas Neokorteks.

1. Trust

Seperti analisis yang dikemukakan Francis Fukuyama dalam bukunya 'Trust' bahwa syarat suatu bangsa menjadi besar adalah harus memiliki modal sosial. James Coleman mendeskripsikan modal sosial sebagai kapasitas masyarakat untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama.

Hanya bangsa yang bisa bekerja sama dengan baik yang bisa membuat perusahaan besar di dunia. Penelitian menunjukkan 3 negara yang berada di urutan teratas untuk 10, 20 dan 40 perusahaan dengan pendapatan terbesar di dunia, yaitu: Amerika Serikat, Jepang dan Jerman.

Ketiga negara ini disebut 'high-trust society'. Pada ketiga negara ini ditemukan kemampuan masyarakatnya membangun hubungan-hubungan sosial yang erat – tanpa perlu memandang hubungan darah atau keluarga – untuk mencapai suatu tujuan.

Secara teori disebutkan untuk mengelola sebuah perusahaan besar diperlukan 'trust' – rasa percaya – yang tinggi antar sesama anggotanya. Teori ini sangat masuk akal, karena untuk mengelola sumber daya yang banyak maka perlu dilakukan desentralisasi manajemen. Untuk memberikan tanggung jawab manajemen itu kepada orang lain, maka diperlukan rasa percaya yang tinggi.

Sebaliknya ada juga yang disebut 'low-trust society'. Contohnya Perancis, Korea, Italia dan Cina. Walaupun keempat negara ini cukup berhasil dalam membangun ekonominya, namun tetap saja perusahaan-perusahaan terbesarnya tidak sehebat negara-negara dengan karakter rasa saling percaya yang tinggi. Pada negara-negara ini ciri perusahaan yang maju dan besar terbagi menjadi 2 kategori, yaitu: (1) perusahaan yang didukung negara di Perancis dan Korea, (ii) perusahaan keluarga di Cina dan Italia.

Analisis 'trust' ini bisa digunakan untuk menjawab mengapa di Indonesia partai besar selalu rawan perpecahan. Bahkan kompetisi dalam demokrasi juga dalam bahaya jika setiap kelompok atau partai hanya siap menang dan suka mencari-cari alasan ketika kalah. Tanpa rasa percaya, orang cenderung mengedepankan kepentingan diri sendiri atau kelompok kecil. Perkembangan organisasi, bahkan bangsa selalu dibatasi dengan perpecahan yang berlangsung terus menerus.

2. Kapasitas Neokorteks

Kemampuan bekerja sama adalah hal penting dalam keberlangsungan hidup. Itulah yang sebenarnya membuat spesies manusia ini berjaya di dunia ini. Jangankan manusia, hyena yang bekerja sama membuat singa si raja hutan tidak berkutik.

Makhluk yang bisa bekerja sama adalah makhluk yang bisa berpikir. Dan bagian otak yang bertanggungjawab untuk berpikir adalah neokorteks. Beberapa fungsi
utama neokorteks adalah kemampuan berpikir secara sadar dan kemampuan bahasa.

Dalam penelitian ukuran kelompok adalah sebanding dengan volume neokorteks. Semakin besar kelompok, semakin besar neokorteksnya. Dan semakin besar neokorteks – artinya makin hebat kemampuan berpikirnya – semakin dia bisa bekerja sama.

Saya tak suka analisis lanjutan ini.

Jangan-jangan kecepatan evolusi otak manusia itu tidak sama di muka bumi ini. Ada bangsa yang berevolusi sedemikian baiknya sehingga neokorteks mereka makin membesar. Sementara itu ada juga bangsa yang lamban dalam evolusi neokorteksnya. Bangsa yang terlambat evolusi inilah yang hanya bisa membentuk kelompok-kelompok kecil dan gemar gontok-gontokan dalam permainan kompetisi yang menuntut sportifitas tinggi.

Dengan kenyataan beberapa bangsa lemah dalam kerjasama ini, perlukah diadakan survei volume neokorteks? Apakah bangsa dengan volume neokorteks kecil sebaiknya jangan berdemokrasi yang memerlukan jiwa besar dan kelapangan dada untuk menerima kekalahan?

Tanyakanlah pada rumput yang bergoyang.