Tuesday, January 20, 2009

Palestina: What Next?

* Belajar Sampai Ke Negeri Cina

Pada bulan Maret 2004 sekelompok aktivis Cina mendarat di pulau Senkaku/Diaoyu yang disengketakan Jepang, Cina dan Taiwan. Pulau ini diperkirakan kaya akan minyak dan ketiga negara ini sangat membutuhkan minyak. Penjaga pantai Jepang menangkap kelompok aktivis, tapi kemudian memulangkannya ke Cina. Dan ... sampai sekarang mereka tak pernah – bahkan tak ingin - berperang.

Ternyata Palestina dan Israel tidak sendirian dalam mempermasalahkan wilayah. Sampai saat ini pun Jepang, Cina termasuk Taiwan mempermasalah kepemilikan pulau Senkaku/ Diaoyu.

Cina (dan Taiwan) merasa memiliki pulau itu dengan merujuk pada dokumen Dinasti Ming (1368-1644) termasuk dokumen pertahanan laut dinasti Ming dan dinasti Qing (1644-1911). Sementara Jepang menganggapnya sebagai pulau tak bertuan. Dan kemudian warga Jepang terbukti telah membangun pulau itu.

Tentu masalah ini juga tidak mudah diselesaikan. Selain menyangkut kepentingan ekonomi, hal ini juga menyangkut harga diri bangsa. Jepang dan Cina sudah layak berperang, tapi mereka tak mau melakukannya.

* * *

Begitu juga masalah tanah Palestina. Semua ini adalah masalah geografis, perebutan wilayah dari dua bangsa yang sama-sama pernah menduduki wilayah tersebut. Adapun masalah agama adalah sekedar bahan bakar untuk melakukan pembenaran terhadap pihak sendiri. Jika Israel didirikan di Afrika Selatan atau di Jerman, tentu saja tidak akan ada masalah konflik agama antara Islam dengan Yahudi.

Sejarah ribuan tahun akan menunjukkan masalah Palestina adalah masalah ruwet yang memusingkan kepala. Baik bangsa Israel maupun bangsa Palestina memang sama-sama pernah berdiam di situ. Klaim kedua bangsa ini akan sama-sama benar.

Masalah utama adalah karakter bangsa yang berdiam di wilayah ini. Konon kabarnya Tuhan menurunkan banyak Nabi di Timur Tengah, karena kehidupan di sana selalu penuh kekacauan. Saya pikir Tuhan memang benar. Karakter darah tinggi tiap bangsa di sana memang gampang menyulut perang. Perang memang ada di mana-mana, tapi yang pasti selalu ada di Timur Tengah.

Perang Palestina - Israel terbukti tak pernah bisa menyelesaikan masalah. Bagi Palestina yang lebih lemah, rakyat akan menderita karena dibombardir siang malam. Bagi Israel yang lebih kuat, kemenangan saat ini adalah tabungan untuk mendapat perlawanan lebih dahsyat di masa depan. Orang tua yang kehilangan anaknya akan menginginkan balas dendam. Dan – ini yang paling fatal – anak-anak yang dibombardir siang malam ini kemungkinan besar hanya memikirkan satu hal: bergabung dengan Hamas dan balas dendam!

* * *

Mengapa Cina dan Jepang tak mau berperang? Itu karena pemimpin kedua mengedepankan pembangunan negara daripada berperang. Sikap bijak itu terutama datang dari Cina. Tahun 1985, pemimpin Cina ketika itu, Deng Xiaoping mengatakan: "Pertanyaan mengenai (status) pulau Diaoyu dapat kita kesampingkan untuk sementara; mungkin generasi mendatang akan lebih cerdas dari kita dan akan menemukan solusi praktis". Lihatlah betapa pragmatisnya Kamerad Deng!

Tanpa kepemilikan pulau tersebut, bangsa Jepang tetap bisa hidup, begitu pula bangsa Cina dan Taiwan. Di mata pemimpin ketiga negara itu, perang bukanlah pilihan yang terbaik. Perang hanya memastikan satu hal: kesengsaraan rakyat.

Palestina memang bukan Senkaku/Diaoyu. Tapi solusi rasional pragmatis ala Kamerad Deng yang menghasilkan kebaikan bagi semua pihak bukan tidak bisa dilakukan.

Bangsa Palestina memang harus mengalah. Inisiatif damai harus datang dari bangsa Palestina. Bangsa Palestina harus menahan diri untuk tidak melakukan kekerasan. Ada 2 (dua) hal utama yang dapat menjadi modal bangsa Palestina untuk memulai hidup baru, yaitu: (1) Keberadaan Otoritas Palestina, (2) Dalam globalisasi batas wilayah adalah semu.

Walaupun tidak memadai dan ideal, bangsa Palestina sebenarnya bisa bersandar pada Kesepakatan Oslo yang menghasilkan Otoritas Palestina. Bangsa Palestina sebenarnya sudah memiliki wilayah, pemerintahan sendiri, sudah bisa memilih wakil rakyat. Semua ini jika ditambah dengan suasana damai dan tentram, maka secara perlahan akan menghasilkan negara yang benar-benar Negara.

Otoritas Palestina memang bukan negara sungguhan, namun bangsa Palestina tetap bisa hidup layak dengan landasan ini. Taiwan bukanlah negara. Cina menganggap Taiwan bagian dari Cina. Tapi Taiwan memiliki wilayah, memiliki pemerintahan sendiri, maka Taiwan tetap bisa bergerak mensejahterakan rakyatnya.

Di jaman ini batas negara adalah semu. Pekerjaan sudah bisa dilakukan di mana-mana, tidak tergantung batas negara. Orang India bisa mengambil pekerjaan di Amerika, orang Jepang bisa membangun pabrik di Cina. Yang terpenting semua negara meningkatkan kapasitas penduduknya sehingga bisa berkiprah di mana saja. Singapura hanya mempunyai secuil wilayah, tapi gerak rakyat Singapura bisa ada di seluruh dunia.

Dengan modal otoritas Palestina ini dan fenomena globalisasi, bangsa Palestina bisa menjadi semacam Taiwan ataupun semacam Singapura.

Akhirnya, solusi Palestina memang mudah kita pikirkan di negara relatif damai seperti Indonesia. Apakah bangsa Palestina yang sehari-hari melihat kekerasan, desingan peluru, hantaman rudal, darah dan air mata bisa memikirkan alternatif ini?

* * * * *

Friday, January 9, 2009

Palestina, Kita dan Akal Sehat

Hari-hari ini kita disuguhkan berita yang mengharubirukan perasaan kita. Derita rakyat Palestina di Gaza yang dibombardir tentara Israel. Semua media meliputnya. Semua perhatian fokus ke Palestina. Bangsa Indonesia termasuk yang sangat tergugah. Demonstrasi di mana-mana. Kutukan kepada Israel disemburkan di setiap kesempatan.

Perasaan prihatin, marah melihat pembantaian, kemauan menolong sesama adalah sesuatu yang mulia. Tidak ada yang salah dengan perasaan sedih melihat suatu tragedi. Bagaimanapun kita tetap manusia.

Tapi ...

Di bulan Mei 2008, AFP memberitakan penelitian yang dilakukan World Church Service yang mengungkapkan prosentase kasus malnutrisi di Timor Barat bahkan lebih tinggi daripada di Afrika. Survei yang dilakukan terhadap 4,800 rumah tangga, 61.1 persen balita menderita gizi buruk yang kronis, bahkan 13.1 persen sudah dalam tahap akut.

Sekitar 50% persen anak di Timor Barat dari populasi 2 juta mengalami kurang berat badan dibandingkan dengan angka untuk benua Afrika secara keseluruhan, yaitu 21.9%.

Saya yakin banyak yang tidak tahu kenyataan yang memilukan ini. Kita heran mengapa tidak ada yang marah, tidak ada yang demontrasi, tidak ada yang mengorganisir pengumpulan dana secara besar-besaran. tidak ada yang mengutuk pemerintah yang gagal mengurus rakyat di depan matanya sendiri.

Lebih jauh lagi 80 juta orang masih hidup masih di bawah garis kemiskinan. Setengah dari 235 juta orang hidup dengan penghasilan di bawah 2 dolar sehari.

Semua ini merupakan medan jihad. Semua ini benar-benar masalah besar. Semua ini menuntut demonstrasi, kutukan bagi pemerintah kita. Karena kemiskinan akan melahirkan semua keburukan yang ada di dunia ini.

Mengapa kita bisa begitu tergugah untuk peristiwa yang jauh di mata sehingga menjadi dekat di hati, sementara peristiwa penting di depan mata bisa lolos dari perhatian kita?

* * *

Penelitian memang menunjukkan pikiran kita memang memiliki tempat yang bisa dimanipulasi, sehingga pikiran kita bisa berbelok ke sesuatu yang memiliki sensasi tinggi karena diberitakan secara luas dan kita bisa membayangkan tragedi yang mengerikan.

Tahukah anda bahwa orang yang mati karena ditimpa kelapa lebih besar daripada orang yang mati karena serangan ikan hiu? Setiap tahun di seluruh dunia 150 orang mati tertimpa kelapa. Sementara tahun 2002, 2003, 2004 “hanya” 14 orang yang mati karena diserang hiu. Mengapa media, bahkan film, selalu mengembar-gemborkan keganasan hiu, tapi sebaliknya tidak pernah mengembar-gemborkan keganasan kelapa? Mengapa tidak ada produser yang tertarik membuat film tentang pembunuhan oleh kelapa? Mengapa Steven Spielberg membuat Jaws, mengapa tidak membuat Coconut Killer?

Di Amerika, orang yang mati karena tenggelam kolam renang di rumah daripada karena senjata api yang disimpan di rumah. Tapi mengapa orang lebih takut kepada senjata api, kalau faktanya kolam renang lebih berbahaya?

Sesungguhnya umat Islam di dunia telah berlaku tidak adil kepada saudara Muslim yang lainnya dengan selalu fokus pada Palestina.

Di dunia ini ada bangsa mayoritas Muslim yang sampai saat ini masih tak punya negara, yaitu bangsa Kurdi. Padahal suku bangsa ini pernah menyumbang tokoh besar, pahlawan perang Salib dari pihak Muslim, Salahuddin Al Ayyubi. Tanah bangsa ini tersebar di negara-negara Turki, Irak, Iran dan Syria. Dan bangsa Kurdi ini tertindas di mana-mana. Identitas mereka selalu dihinakan dan ditekan di negara-negara itu. Bahkan Saddam Hussein pernah menghilangkan 300.000 orang Kurdi antara tahun 1983 dan 1987. Baru-baru ini Pemerintah Turki menyerang mereka lagi.

Kalau Muslim di seluruh dunia selalu mengembar-gemborkan kemerdekaan Palestina, lalu mengapa tidak pada kemerdekaan Kurdi?

Penindas bangsa Kurdi itu mayoritas Muslim, sementara penindas bangsa Palestina itu Yahudi. Ada ayat Al Quran menyebutkan bahwa Muslim itu bersaudara, lalu seperti apakah jahatnya penindas saudara Muslimnya sendiri? Mengapa orang termasuk yang di Indonesia tidak pernah mengusik pemerintah Turki, Irak, Iran dan Syria yang dijalankan oleh mayoritas Muslim?

Mengapa nilai jual penderitaan bangsa Kurdi lebih kecil dibandingkan dengan penderitaan bangsa Palestina?

* * *

Otak kita gampang dimanipulasi oleh fakta sensasional. Pilihan sikap kita terkadang aneh, rancu dan tidak logis. Ketika melihat sebuah sensasi di luar sana, kita bisa melupakan keadaan diri sendiri yang terkadang lebih membutuhkan perhatian.

Kita tidak membela kejahatan, tidak mengabaikan peristiwa buruk di luar sana, tapi alangkah baiknya diri sendiri juga diperhatikan. Dan alangkah baiknya juga berlaku adil untuk suatu peristiwa yang sama.

Semoga penderitaan rakyat Palestina, rakyat Kurdi dan penderitaan rakyat seluruh dunia segera berakhir. Dan semua orang bekerja sama membangun dunia yang lebih indah.

* * *

Friday, December 26, 2008

Indonesia Kreatif Tahun 2009

* Catatan untuk pembuatan kebijakan

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan Tahun 2009 sebagai tahun Indonesia Kreatif. Ini mengacu pada pengembangan 3 (tiga) bidang ekonomi kreatif unggulan, yaitu: fashion, kerajinan dan kriya. Dari sisi prioritas saat ini, pengembangan ekonomi kreatif sangat tidak tepat.

Sebagian besar tenaga kerja Indonesia adalah petani dan sampai saat ini baik soal produktifitas maupun potensi nilai tambah produk pertanian belum terurus dengan baik. Indonesia mengalami deindustrialisasi dengan semakin menurunnya pertumbuhan sektor industri. Selain itu masih sering dijumpai masalah industri kekurangan energi. Ini akibat kebijakan yang tidak sinkron antara pengembangan industri dan manajemen energi. Padahal semua masalah ini sangat besar pengaruhnya dalam menyerap tenaga kerja, yang akan berujung kepada kesejahteraan rakyat. Justru masalah-masalah seperti ini yang harus jadi prioritas utama pemerintah.

Pada akhir tahun 2006, Wakil Presiden Jusuf Kalla membuat terobosan dengan kebijakan 'industri mengikuti energi', dengan tahun 2007 sebagai awal kebijakan. Kebijakan ini akibat kesulitan industri nasional memperoleh energi, karena energi yang ada dijual keluar. Dampak kebijakan ini yang terbayang oleh kita adalah pembangunan kawasan industri besar-besaran.

Tapi di tahun 2008 kebijakan ini sudah tidak terdengar lagi. Kalau kita melihat Kebijakan Industri Nasional dalam Peraturan Presiden No. 28/2008 tentang Kebijakan Industri Nasional, maka program 'industri mengikuti energi' ini sudah tidak disebut-sebut lagi.

Indonesia mengalami deindustrialisasi. Sebelum tahun 2007, industri di Indonesia sudah mengalami penurunan. Pertumbuhan yang terjadi selalu sekitar 5%. Bandingkan dengan pertumbuhan di masa Orde Baru dimana industri tumbuh sekitar 10%. Perkiraan untuk tahun 2008 adalah 4,8% dari target semula 7,4%.

Beberapa waktu lalu Wakil Presiden marah kepada Gubernur Kalimantan Selatan dan Direktur Utama Krakatau Steel yang gagal memenuhi target waktu pembangunan industri peleburan bijih besi di Banjarmasin, karena terganjal masalah administrasi. Ini menunjukkan industri yang diurus langsung Wapres saja bisa gagal, apalagi yang tidak.

Dengan berbagai masalah ini sungguh mengherankan mengapa pemerintah tidak segera mencanangkan, misalnya, tahun 2009 sebagai Tahun Restorasi Industri Nasional untuk menyegarkan program 'industri mengikuti energi'.

Contoh lain adalah baru-baru ini petani kelapa sawit kita dikejutkan dengan penurunan harga Crude Palm Oil (CPO) di pasaran internasional. Petani kelabakan dan kesejahteraannya menurun.

Di lain pihak, Malaysia juga mengandalkan produksi kelapa sawit ini. Walaupun masalah yang dihadapi sama, namun Malaysia tidak kelabakan seperti Indonesia, karena 90% produksi CPO nya sudah diolah di dalam negeri. Sementara, Indonesia sebagian besar CPO Indonesia diekspor yang harganya sangat tergantung dengan keadaan pasar dunia. Bahkan ironisnya, industri di Indonesia harus mengimpor produk derivatif CPO ini.

Dengan keberhasilan Malaysia mengelola industri hulu dan hilir kelapa sawit, sungguh mengherankan mengapa pemerintah Indonesia tidak serius memanfaatkan potensi kelapa sawit. Sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia, pemerintah bisa mencanangkan tahun 2009, misalnya, sebagai tahun pengembangan industri hilir kelapa sawit.

* * *

Dalam manajemen ada yang disebut hot spot. Ini adalah titik yang mempunyai daya ungkit tinggi yang sangat mempengaruhi hasil pekerjaan. Semua sumberdaya seharusnya dikerahkan di lingkungan hot spot ini.

Di saat petani kita mengalami masalah harga komoditi, Indonesia mengalami deindustrialisasi, peghamburan potensi energi dan masalah pengangguran, maka hot spot nya adalah pembangunan industri pengolahan. Dengan fokus ini petani akan sejahtera, industri akan berkembang, jasa terkait akan berkembang dan pengangguran akan berkurang.

Sedangkan Industri kreatif seperti musik dan film bukan hot spot pembangunan. Industri ini tanpa bantuan pemerintah pun sudah bisa berkembang dengan baik.

Sifat kebijakan pemerintah sebaiknya fokus pada sedikit hal, namun diurus dengan serius. Jika terlalu banyak kebijakan, apalagi kebijakan itu berubah-ubah akan membingungkan dan hasilnya juga sulit dipantau.

Dalam suatu wawancara, Putera Sampoerna – seorang pegusaha sukses - pernah mengatakan sebaiknya Indonesia fokus pada 3 hal saja, yaitu: pertanian, kayu dan mineral. Pilihan ini sangat beralasan, karena sesuai potensi yang ada dan sangat bisa menyejahterakan rakyat.

Kalau pemerintah sudah fokus dan melaksanakannya secara konsisten, maka relatif mudah mengembangkan hal lain yang berkait. Industri jasa pasti akan berkembang mengikuti industri. Dunia pendidikan akan menemukan fokus kurikulum untuk menyediakan tenaga kerja yang ahli dan terampil.

Tahun 2009 Indonesia memang harus kreatif. Namun, kreatif dalam mengembangkan berbagai potensi yang memang sudah di depan mata dan berpengaruh besar dalam usaha menyejahterakan rakyat.

* * *

Friday, December 19, 2008

Lemparan Sepatu dan Kekalahan Arab

Bisakah lemparan sebuah sepatu dan teriakan anjing menghina Amerika Serikat (AS)? Tentu saja tidak, jauh panggang dari api. AS akan segera melupakan kasus sepatu ini. Justru kepada bangsa Arab kita bertanya apa yang bisa mereka lakukan kemudian?

Memang pelempar sepatu bukan mewakili bangsa Arab. Tapi tidak sedikit orang Arab menganggap sang pelempar sepatu sebagai pahlawan.

Ketika orang putus asa, merasa kalah, dan kehilangan pegangan, maka kepada sepatupun dia bisa berharap. Telapak kaki sebagai simbol penghinaan dan dilemparkan kepada musuh, diharapkan bisa mengobati luka batin. Dia mengira orang yang dilempar sepatu itu akan jatuh martabatnya. Dia mengira orang yang dilempari sepatu akan guncang.

Bangsa Arab mengalami luka batin. Mereka pernah berjaya menguasai jazirah, bahkan sebagian dunia. Tapi kini mereka terpuruk. Arab bukan apa-apa. Arab bukan siapa-siapa.

Di jaman modern sebenarnya Arab telah berusaha jaya kembali. Tapi yang mereka kejar adalah kejayaan militer ataupun pembangunan infrastruktur megah. Bukan kejayaan ekonomi, bukan kejayaan ilmu pengetahuan seperti yang pernah mereka miliki di masa lalu.

Arab tak berdaya ketika kolonialisme Barat berbagi wilayah jazirah Arab. Harga diri makin terguncang, ketika negara Israel terbentuk. Muncullah pahlawan Arab, Gamal Abdul Nasser, pemimpin Mesir yang menyatukan Arab untuk melawan Israel.

Tahun 1967 Presiden Irak, Abdul Rahman Aref, setelah penandatanganan kerjasama militer Pan Arabisme sesumbar: “Eksistensi Israel adalah suatu kesalahan sehingga harus diluruskan. Inilah kesempatan kami untuk menghapuskan noda yang memalukan sejak tahun 1948. Tujuan kami sangat jelas menghapus Israel dari peta dunia.”

Sebelum pasukan gabungan Arab bergerak, Israel mendahului serangan. Pasukan gabungan Arab dapat dirontokkan hanya dalam tempo 6 hari. Dan Israel berhasil menambah luas wilayahnya 42.000 mil persegi. Israel merebut Sinai dan Jalur Gaza, Dataran Tinggi Golan, Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Dunia Arab terguncang.

Tak lama setelah kekalahan ini, Nasser, sang pemimpin, meninggal dunia di usia yang sangat muda, 52 tahun. Ada analisis menarik dari PM Cina Zhou En-Lai mengenai sebab kematian Nasser. PM Zhou memberi tahu kepada delegasi Mesir yang bertandang, bahwa Nasser seharusnya tidak meninggal, karena sebagai presiden hebat, dia pasti akan mendapat perawatan terbaik. PM Zhou bilang Nasser meninggal karena mengalami patah hati dan frustasi setelah kehilangan dukungan dari Uni Soviet. Setelah kalah perang, Nasser memang frustasi, begitu pula dengan bangsa Arab.

Bangsa Arab memang tak kapok. Pemimpin Mesir berikutnya, Anwar Sadat, mengobarkan perang Yom Kippur tahun 1973. Mesir menyerbu dari Sinai, Suriah dari Dataran Tinggi Golan. Perang berhenti tak lama kemudian di saat pasukan Mesir telah kepayahan. Anwar Sadat berhasil menggalang dukungan internasional. Arab memang menang dalam diplomasi, tapi tetap saja Arab kalah perang.

* * *

Bangsa Arab memang gagal membangun dirinya sendiri. Kekayaan minyak memang meninabobokan. Kekolotan beragama menyebabkan kemunduran. Tidak hanya militer, bangsa Arab juga mundur secara politik, ekonomi, maupun ilmu pengetahuan.

Dalam buku The World is Flat, Thomas Friedman mengungkapkan beberapa data.

Tanggal 4 Januari 2004 melalui Osama bin Laden mengirim pesan yang direkam melalui Al Jazeera yang pada intinya: GDP Spanyol – bekas tanah jajahan Muslim - kini lebih besar dari gabungan 22 negara Arab dengan minyak yang melimpah.

Buku Kedua Arab Human Development Report ditulis tahun 2003 untuk United Nations Development Program mengungkapkan data kemunduran Arab.

Antara tahun 1980 – 1999, negara Arab menghasilkan 171 paten international, Korea Selatan pada periode yang sama menghasilkan 16.328 paten internasional. Hewlett Packard, perusahaan multinasional Amerika, mendaftarkan 11 paten baru setiap hari.

Ilmuan Arab yang bekerja di bidang penelitian dan pengembangan 371 per 1 juta orang, sementara rata-rata dunia Afrika, Asia, Amerika Latin adalah 971 per 1 juta. Penggunaaan komputer di negara-negara Arab 18 per 1000, rata-rata dunia 78 per 1000.

Arab yang tertinggal dalam peradaban ini, alih-alih mengejar pengetahuan, yang terjadi justru gencar membangun gedung dan infrastruktur megah. Apakah semua data kemunduran belum diketahui secara luas di dunia Arab? Jangan-jangan bangsa Arab mengira dengan membangun hotel megah tertinggi di dunia, Burj Al Arab, maka mereka telah merasa kembali jaya.

* * *

Sejauh ini nasib bangsa Arab belum berubah banyak. Tahun 1967 gabungan Arab berperang dengan cukup gagah melawan Israel. Dan bangsa Arab kalah. Kini di akhir tahun 2008, seorang jurnalis Arab melempar sepatu dengan cukup gagah pula kepada Presiden Amerika Serikat. Namun bangsa Arab tetap saja kalah.

Bangsa Arab harus segera mengakui kekalahannya dan belajar. Kemudian segera kerja keras melakukan perbaikan agar jaya kembali seperti di masa lalu.

* * *

Tuesday, December 16, 2008

Mahathir Mohamad

Mahathir memiliki tempat tersendiri di dalam sejarah. Tidak saja dalam sejarah Malaysia, tapi juga dalam sejarah pemerintahan negara Islam. Mahathir memiliki segudang prestasi. Dia berhasil mengatasi masalah etnis di Malaysia. Dia berhasil menaikkan harkat dan martabat etnis Melayu. Dia berhasil membangun Malaysia. Dia meletakkan Visi 2020 sebagai landasan gerak Malaysia untuk menjadi negara maju.

Mahathir adalah cermin kepemimpinan yang berani, cerdas, penuh percaya diri dan pragmatis. Kita bisa belajar banyak dari kepemimpinan Mahathir.

* * *

Dalam Konferensi Tingkat Tinggi Islam di Malaysia tahun 2003, kita dikejutkan ucapan ini: ''The Europeans killed 6 million Jews out of 12 million. But today the Jews rule this world by proxy: They get others to fight and die for them.'' Atau yang ini: “.... 1.3 billion Muslims cannot be defeated by a few million Jews. There must be a way.”

Rasanya inilah ucapan-ucapan provokatif Mahathir yang paling terkenal di dunia internasional. Namun, jangan salah ini hanyalah retorika. Mahathir adalah politikus ulung yang bisa menyeimbangkan retorika keras penuh kritik, dengan pragmatisme ekonomi. Semua kritikan ini tak punya pengaruh buruk pada perkembangan ekonomi Malaysia.

Siapakah Mahathir?

Mahathir lahir pada 10 Juli 1925, anak seorang guru bahasa Inggris. Di zaman Jepang, dia pernah menjual pisang goreng di pasar. Karir profesional dimulai sebagai dokter dan kemudian menjadi politisi yang bergabung dengan UMNO, organisasi politik etnis Melayu. Karir Mahathir naik menjadi anggota parlemen dengan predikat keras kepala dan pembangkang.

Ketika terjadi kerusuhan etnis di Malaysia antara etnis Cina yang kaya dengan Melayu yang miskin, Mahathir membuat surat terbuka yang mengkritik secara tajam kepemimpinan Perdana Menteri Malaysia waktu itu, Tunku Abdul Rahman, yang dinilai terlalu pro orang Cina. Akibatnya, Mahathir dipecat dari UMNO.

Seperti banyak orang besar lainnya, di masa kekosongan aktivitas, Mahathir menulis buku, Dilema Melayu. Dia menguraikan pemikirannya mengenai apa yang salah di Malaysia, sehingga terjadi kerusuhan etnis. Mungkin pas dengan profesinya sebagai dokter, Mahathir mendiagnosis masalah, baru kemudian menuliskan resep.

Mahathir berpendapat penyebab kerusuhan adalah orang Melayu sebagai penduduk asli terpinggirkan secara ekonomi dibandingkan dengan orang Cina.

Ini disebabkan lemahnya kemampuan etnis Melayu dalam menghadapi hidup. Perkawinan antar kerabat yang populer di kalangan etnis Melayu menghasilkan keturunan yang lemah. Selain itu kehidupan orang Melayu yang selalu dimanja oleh alam membuatnya kurang inisiatif. Kondisi ini membuat orang Melayu tak siap ketika harus berkompetisi dengan orang Cina pendatang yang ditempa oleh alam yang keras, perang saudara dan kekejaman birokrat.

Ketertinggalan Melayu inilah menjadi sumber masalah utama. Maka solusinya adalah melalui intervensi negara untuk membantu peningkatan ekonomi orang Melayu. Hasilnya, buku resep Mahathir ini dilarang terbit dan baru dicabut ketika Mahathir jadi perdana menteri.

Setelah masa rehabilitasi, Mahathir kembali ke UMNO dan menjadi seorang menteri pada masa pemerintahan Perdana Menteri Tun Abdul Razak. Dan pada akhirnya, setelah Perdana Menteri berikutnya Tun Hussein Onn mundur karena sakit, Mahathir dipilih menjadi pemimpin.

Mahathir memimpin Malaysia selama 22 tahun. Sejarah memberikan kesempatan kepadanya untuk melaksanakan apa yang menjadi pemikirannya selama ini.

Pembangunan ekonomi Malaysia adalah pembangunan yang dimotori oleh negara. Pembangunan ekonomi ini meliputi 2 hal, membangun ekonomi negara dan membangun ekonomi orang Melayu. Dalam program NEP (New Economic Policy), negara ikut campur dalam memajukan ekonomi orang Melayu dengan target 30% kepemilikan perusahaan oleh orang Melayu pada tahun 1990.

Tapi Mahathir bukan orang yang berpandangan sempit. Mahathir bukan penganut paham supremasi Melayu. Untuk membangun negara Mahathir melancarkan program Look East Policy dengan Jepang sebagai model utama pembangunan, termasuk pula model negara industri baru seperti Korea Selatan.

Dengan hubungan erat dengan Jepang, Mahathir membangun HICOM (Heavy Industries Corporation of Malaysia Berhad) yang terdiri dari pabrik semen, pengolahan besi, peleburan baja, pulp dan kertas. Termasuk membangun proyek prestisius: pabrik mobil PROTON kerjasama dengan Mitsubishi. Kemudian dalam pembangunan selanjutnya Malaysia juga mengundang investor teknologi tinggi untuk menanamkan modalnya di Malaysia. Hasrat mengikatkan Malaysia dengan teknologi tinggi ini tercermin kemudian dengan membangun Multimedia Super Corridor (MSC) yang akan membawa Malaysia ke era informasi.

Strategi pembangunan yang meniru Jepang dengan pemerintah sebagai motor dan hasrat terhadap teknologi tinggi ini berhasil memajukan Malaysia. Ini ditandai dengan perumbuhan ekonomi yang stabil dan tinggi, penurunan kemiskinan dan kenaikan harkat dan martabat etnis Melayu.

Setelah ketegangan etnis memudar, paling tidak etnis Melayu terlihat puas, Mahathir terus bergerak ke depan dengan Visi 2020. Suatu visi untuk Malaysia yang maju tidak hanya dalam dimensi ekonomi, tapi juga dalam dimensi politik, sosial, spiritual, psikologi dan budaya.


* * *

Mahathir itu berani. Jauh sebelum Pak Harto berani menolak bantuan Belanda, Mahathir telah melakukannya. Mahathir pernah menolak menghadiri pertemuan kepala negara anggota persemakmuran bekas jajahan Inggris, karena menganggap forum itu tidak ada gunanya.

Mahathir terus berseteru dengan kerajaan Inggris, ketika terjadi masalah dengan hak mendarat maskapai penerbangan Malaysia Airlines di London. Ketika Inggris mencabut status preferential trade benefit bagi Malaysia yang dibalas dengan kontan dengan kebijakan “Buy British Last” yang menganaktirikan produk barang dan jasa Inggris di Malaysia.

Tapi semua keberanian ini tidak konyol. Keberanian ini bukan sekedar gagah-gagahan pemimpin bangsa yang akhirnya menyengsarakan rakyatnya. Sebagai ganti hubungan dengan Inggris, Mahathir merangkul Jepang. Sama seperti retorikanya yang mengecam Barat dan Yahudi hampir tidak ada pengaruhnya secara ekonomi terhadap rakyat Malaysia.

Mahathir itu memiliki analisis yang tajam. Ketika etnis Melayu terpinggirkan dan “run amok”, secara jitu menganalisis apa yang menjadi penyebabnya, sekaligus memberi resep apa yang harus dilakukan.

Di sini juga terlihat keberanian Mahathir. Analisis Mahathir ini berbeda dengan nilai umum dimana semua orang harus diperlakukan setara. Dalam kasus hubungan etnis Melayu dan Cina yang harus dilakukan adalah justru memberikan perlakuan yang berbeda. Ini membuat Mahathir dituduh rasialis. Tapi bagaimanapun resep Mahathir ini manjur.

Mahathir seharusnya juga mendapat Nobel Ekonomi, karena keahliannya di bidang ekonomi. Prestasi pertama Mahathir adalah berhasil membangun ekonomi Malaysia dan memberantas kemiskinan. Prestasi kedua adalah berhasil melewati krisis dengan cara sendiri, bukan dengan menjadi budak intelektual Barat.

Berbeda dengan negara Asia lain yang terkena krisis, banyak negara yang bertekuk lutut dan kehilangan kepercayaan diri sehingga menelan bulat-bulat resep IMF. Mahathir melakukan hal yang berlawan dengan resep IMF. Mahathir berani menghajar spekulan dengan mengontrol yang modal yang keluar masuk Malaysia dan mematok nilai ringgit terhadap dolar.

Malaysia secara gilang gemilang berhasil keluar dari krisis. Sementara beberapa negara yang dibantu IMF justru malah terseok-seok. Sekali lagi membuktikan ketajaman analisis dan keberanian membuat Mahathir menang.

Pelajaran terakhir dari Mahathir adalah pragmatisme. Di tengah-tengah mayoritas Muslim dan simbol-simbol Islam di mana-mana, ada judi di Genting Highlands! Muslim memang bisa berdamai dengan apa saja. Yang terpenting diatur sehingga menguntungkan bagi semua.

* * *

Mahathir telah mundur dari jabatannya. Namun Mahathir tetap saja seperti dulu. Seorang pembangkang dan selalu teriak jika melihat keadaan yang tidak sesuai dengan pemikirannya. Selain memecat Anwar Ibrahim secara kejam, mungkin ini kelemahan lainnya. Mahathir tidak elegan di masa dia seharusnya menjadi negarawan yang arif, lebih banyak diam dan memberikan kesempatan penerusnya untuk bekerja.

Tapi apapun kelemahannya, Mahathir telah meninggalkan jejak indah yang tak terhapus dan selalu bisa menjadi inspirasi kita semua.

* * *