Friday, May 8, 2009

Seks

Kasus Antasari Azhar, ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) benar-benar mengagetkan kita. Sang pahlawan anti korupsi itu dituduh mendalangi pembunuhan seorang pengusaha dengan latar belakang motif kisah asmara segitiga.

Saya – mungkin termasuk banyak orang lain – tidak percaya Pak Antasari melakukan hal tercela ini.

Ada 2 kemungkinan kasus ini, yaitu: Pak Antasari bersalah atau tidak bersalah. Tapi apapun hasil akhirnya tema seks tetap memegang peranan utama.

Kalau Pak Antasari bersalah, maka sudah jelas daya tarik seks begitu kuat, sehingga bisa meruntuhkan iman seseorang. Atau dalam bahasa gaulnya iman boleh kuat, tapi imron ini yang tak kuat. Pater MAW Brouwer bilang pria itu seperti anjing, walaupun di rumah telah disediakan makanan lezat, namun masih juga mengendus-endus kotoran ayam di jalan.

Kalau Pak Antasari tidak bersalah maka aktor di balik konspirasi ini benar-benar memahami psikologi manusia yang sangat terikat kuat dengan tema seks, sehingga orang sangat mudah percaya dengan isu skandal seks ataupun sangat mudah menjebak seorang pahlawan dengan menawarkan seks.

Kasus ini hanya meneguhkan peranan seks sebagai alat utama keberlangsungan hidup manusia. Seks diciptakan alam supaya manusia bisa melanjutkan keturunannya. Sehingga sampai kapanpun, di jaman apapun, seks tetaplah tema utama kemanusiaan.

Mengapa bisa demikian?

* * *

Samuel Butler mengungkapkan ide yang menarik yaitu: “a hen is only the egg's way for making another egg”. Ayam hanyalah sebuah sarana bagi telur untuk membuat telur yang lain. Konsep menarik ini kemudian dikembangkan oleh Sang Jenius, Richard Dawkins, dengan “The Selfish Gene”, Gen Egois. Manusia – seperti seekor ayam – hanyalah sebuah cara bagi gen untuk menggandakan dirinya. Seluruh gerak gerik dinamis manusia di sepanjang sejarah hanyalah manipulasi oleh gen untuk menggandakan dirinya.

Konsep luar biasa ini membalikkan pikiran kita bahwa gen hanya bagian dari organisme. Perspektif kita berubah. Bukanlah organisme yang menjadi aktor utama dalam kehidupan ini, tapi gen lah yang membuat dan mengendalikan aktor utama ini.

Manusia (atau analogi ayam) yang bisa bergerak dinamis tidak usah terlalu ge-er terhadap peranannya dalam kehidupan ini. Pemikiran Descates tentang “saya berpikir, maka saya ada” ataupun pendapat eksistensialis tentang keutamaan eksistensi manusia bisa dicampakkan oleh perspektif kepentingan gen. Pikiran ataupun eksistensi manusia hanyalah alat bertahan hidup bagi gen (atau analogi telur) yang memiliki tujuan utama yang sangat sederhana, yaitu: menggandakan diri!

Tempat alat pengganda ini bekerja secara ideal adalah organisme biologi. Dan setiap organisme ini memiliki masa hidup tertentu. Sebelum organisme tersebut mati, dia harus mempunyai keturunan. Oleh karena itu gen merekayasa lagi teknik penggandaan untuk kepentingan gen sendiri melalui kenikmatan hubungan seks. Dengan sarana ini kelangsungan hidup gen menjadi langgeng.

Evolusi manusia (maupun binatang), baik secara fisik maupun budaya, selalu mengarah pada harapan manusia untuk berhubungan seks. Mengapa para lelaki memamerkan keperkasaannya, senang mencari harta, senang kekuasaan? Mengapa para wanita senantiasa bersolek, mempercantik diri berusaha memikat pria? Semua itu – entah disadari ataupun tidak – adalah demi kesempatan yang lebih besar untuk berhubungan seks dan mendapatkan keturunan.

Hampir seluruh upaya manusia di dunia ini adalah untuk melanggengkan keturunannya dan ini berarti kelanggengan “hidup” gen itu sendiri.

* * *

Seks adalah manipulasi gen pada hidup manusia untuk memperoleh keturunan. Seks – alat ciptaan gen – ini sedemikian dahsyatnya sehingga siapapun bisa tunduk kepada dorongan seks ini.

Kemarin Pak Rhenald Kasali menulis kisah tragis tentang Profesor David Gale penentang hukuman mati yang secara tragis justru dihukum mati karena kasus pemerkosaan. Kemungkinan yang paling besar adalah sang profesor dijebak dan dirayu dengan seorang wanita untuk berhubungan seks.

Begitu juga halnya dengan Martin Luther King yang konon kabarnya mempunyai libido tinggi dan dipaksa oleh FBI untuk bunuh diri setelah direkam berhubungan seks dengan seorang wanita muda.

Ataupun Mahatma Gandhi yang tidur telanjang dengan wanita muda, memang bukan untuk berhubungan seks, tapi menggunakan daya tahan terhadap godaan seks untuk mendapatkan tingkat pengendalian diri yang super hebat.

Seks sebagai alat ciptaan gen untuk menggandakan dirinya sendiri adalah alat yang luar biasa dahsyat. Penggandaan gen adalah dasar dari seluruh aktifitas kita. Maka dari itu waspadalah, karena ada gen di dalam kita – dan bukan semata pikiran kita – yang mengendalikan hidup kita.

* * * * *

No comments: