Tuesday, October 28, 2008

Kapitalisme Menuju Keadilan Sosial

Jalan sejarah ekonomi memang tak terduga. Kapitalisme yang mulanya bertentangan dengan sosialisme ternyata menuju ke suatu titik sama, yaitu keadilan sosial. Keadilan sosial ternyata bisa ditempuh melalui kapitalisme.

Pada awalnya struktur ekonomi kapitalisme terdiri dari 3 (tiga) bagian, yaitu: modal, alat produksi dan pekerja. Para kapitalis merencanakan produksi dengan mengelola ketika hal tersebut, kemudian menjual hasilnya untuk mendapatkan profit.

Dalam sistem produksi kapitalisme, ada 2 (dua) kelas yang bertemu, yaitu: kelas pemilik modal dan kelas pekerja. Kelas pemilik modal berkuasa dan memperoleh bagian yang paling besar dari keuntungan. Kelas pemilik modal tidak bekerja terlalu keras, tapi mereka menanggung resiko. Sebaliknya kelas pekerja adalah kelas yang menderita. Mereka bekerja keras membanting tulang sepanjang hari, tapi mendapat bayaran yang paling minimal.

Unsur utama penggerak kapitalisme adalah kompetisi. Dan karena variasi barang dan jasa sedikit, sementara inovasi belum diidentifikasikan, maka jalan satu-satunya memenangkan kompetisi itu adalah dengan penurunan harga. Upah kerja dikurangi dan penderitaan dimulai.

Kesengsaraan kelas pekerja, memanggil cendikiawan seperti Karl Marx, untuk menciptakan sistem alternatif. Lahirlah sosialisme ilmiah untuk menantang kapitalisme. Akar permasalahan sistem dibongkar. Kelas-kelas yang tercipta harus dihapuskan. Alat produksi harus dimiliki oleh kelas pekerja. Kepemilikan pribadi harus dihapuskan. Kompetisi ditiadakan. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat dicita-citakan.

***
Tapi sejarah memihak kepada kapitalisme. Cita-cita mulia keadilan sosial tak tercapai. Ternyata perencanaan bisnis terpusat yang menggantikan perencanaan bisnis individu tidak bisa berjalan. Kepemilikan kolektif yang menggantikan kepemilikan pribadi, justru menjadi melemahkan semangat rakyat dalam bekerja. Tatanan bisnis tanpa persaingan pasar, ternyata melumpuhkan ekonomi negara.

Sementara itu kapitalisme makin digdaya. Kompetisi justru bisa mengembangkan pasar. Kompetisi menghasilkan inovasi. Barang dan jasa yang bisa ditawarkan bisa dikembangkan. Pasar menjadi hidup, kesejahteraan rakyat meningkat.

Inovasi semakin menjadi-jadi. Bukan saja terjadi pada barang, tapi juga pada jasa. Jasa manajemen berkembang. Jasa penelitian berkembang. Lama-kelamaan sektor jasa berkembang, bahkan melebihi sektor produksi barang.

Di sinilah keajaiban terjadi. Peradaban bertransformasi. Dari jaman industri ke jaman informasi. Ekonomi menjadi berbasis pengetahuan. Dominasi produksi barang beralih ke produksi jasa. Dari kerja yang mengandalkan mesin, menjadi kerja yang mengandalkan otak manusia. Dari gerombolan kelas pekerja menjadi pekerja pengetahuan (knowledge worker).

Keseluruhan transformasi ini mengubah struktur kapitalisme. Pada ekonomi yang mengandalkan pengetahuan, maka satu-satunya alat produksi adalah: otak manusia. Dan alat produksi ini ada di kepala pekerja pengetahuan. Jadi antara alat produksi (otak) dengan pekerja telah bersatu padu.

Lalu bagaimana dengan modal dan pemilik modal? Tren baru muncul di Amerika Serikat (AS). Sejak tahun 1990 tren yang berlangsung di AS adalah pekerja pengetahuan itu lebih menyukai skema opsi saham, daripada fokus pada gaji bulanan. Kepemilikan modal secara bersama ini ternyata memacu produktifitas. Pekerja akan merasakan dinamika kepemilikan perusahaan. Total kompensasi akan besar ketika perusahaan berjalan baik, begitu juga sebaliknya.

Tren kepemilikan perusahaan secara bersama-sama ini adalah paku terakhir yang menyatukan jalan kapitalisme dengan cita-cita keadilan sosial. Tak ada lagi pemisahan modal, alat produksi dan pekerja. Semua telah bersatu padu pada kapitalisme. Tren ini akan menciptakan keadilan sosial. Tak ada kelas-kelasan lagi. Sama rata sama rasa. Kalau saja Karl Marx masih hidup, pasti dia takjub ...

* * * * *

Thursday, October 23, 2008

Kapitalisme dan Inovasi

Inovasi adalah lokomotif peradaban. Inovasi adalah DNA negara maju. Namun ternyata inovasi berupa perbaikan produk maupun penciptaan produk hanya bisa tumbuh subur pada sistem kapitalisme. Mengapa demikian?

Hal ini bisa dimulai dari kritik ekonom Austria, Ludwig Von Mises dan Friedrich Hayek terhadap ekonomi sosialis. Sistem ekonomi sosialis yang mengandalkan perencanaan itu tidak akan pernah bisa bekerja, karena masalah kalkulasi ekonomi (economic calculation problem). Penempatan sumber daya yang paling efisien dan langsung berhubungan dengan pasar, hanya bisa dilakukan di level individu atau kelompok individu. Karena keadaan pasar begitu kompleks, maka ekonomi sosialis dengan perencanaan terpusat pasti tidak akan berjalan.

Untuk maju maka pasar harus berkembang. Alat pengembangan pasar yang paling efektif adalah inovasi. Tanpa inovasi, pertukaran barang tidak akan berkembang. Dari pengembangan pasar ini terlihat perbedaan yang mencolok antara negara sosialis dengan negara kapitalis.

Ciri khas negara sosialis adalah terdiri barang-barang tua, sedikit variasi dan jasa yang ada itu-itu saja. Sementara di negara kapitalisme, walaupun pada awalnya barang dan jasa sangat sedikit variasinya, namun dengan pasar yang digerakkan individu dan kompetisi menghasilkan produk dan jasa, makin lama barang dan jasa makin bervariasi.

Produk barang dan jasa yang bisa bervariasi – melalui inovasi – ini merupakan pangkal kesalahan ramalan Karl Marx. Dia meramalkan kapitalisme akan runtuh, karena produksi kapitalisme akan membanjiri pasar. Hukum penawaran-permintaan akan membuat harga barang akan turun. Persaingan antar kapitalis menuntut mereka menekan biaya produksi. Upah buruh akan diturunkan, sehingga buruh akan menderita. Dan revolusi pecah.

Karl Marx salah! Ternyata revolusi kapitalisme tak pernah pecah karena dua hal, yaitu: 1) pada waktu itu pasar bisa diperluas melalui imperialisme, 2) pasar bisa diciptakan melalui inovasi. Walaupun demikian perluasan pasar secara geografis tetap ada batasnya. Maka satu-satunya jalan untuk memperluas pasar secara terus menerus adalah dengan inovasi.

Inovasi muncul karena kompetisi. Persaingan antar kapitalis di pasar yang terbatas menghasilkan pihak yang menang dan kalah. Pihak yang menang akan melakukan inovasi untuk mempertahankan pangsa pasar. Sedangkan pihak yang kalah akan melakukan inovasi menbuat produk barang dan jasa yang berbeda sebagai upaya bertahan hidup.

Secara empiris, kita bisa melihat contoh yang terjadi di Intel. Pada mulanya Intel menguasai pangsa pasar produksi memori komputer. Sejalan dengan waktu, teknologi memori bisa ditiru perusahaan lain. Akhirnya perusahaan-perusahaan Jepang yang terkenal sangat efisien berhasil merebut pangsa pasar Intel. Sebagai pihak yang kalah dalam persaingan, mau tidak mau Intel harus melakukan sesuatu untuk bertahan hidup. Itu adalah inovasi!

Inovasi yang dilakukan Intel adalah dengan berpindah fokus ke bisnis prosesor komputer. Di sektor prosesor inilah Intel melakukan inovasi habis-habisan, yang pada akhirnya menguasai pangsa pasar. Karena teknologi komputer terus berkembang, untuk mempertahankan pasar, maka Intel melakukan inovasi terus menerus. Maka muncullah generasi-generasi prosesor pentium.

Selain untuk mempertahankan pangsa pasar, inovasi juga diperlukan para kapitalisme itu untuk mempertahankan atau meningkatkan pendapatannya. Barang dan jasa yang diciptakan selalu mudah ditiru oleh pesaing. Barang dan jasa itu menjadi komoditi dengan penawaran yang terus menerus meningkat dan harga yang turun. Untuk mempertahankan profit atau mempertahankan harga, maka barang yang ditambah nilainya. Dan untuk itu diperlukan inovasi!

Akhirnya, secara ringkas dapat kita urutkan sebagai berikut: kapitalisme yang membebaskan individu menjalankan ekonomi akan menimbulkan persaingan. Hasil persaingan itu, baik yang menang maupun yang kalah, akan menghasilkan inovasi yang terus menerus. Inovasi ini akan menghasilkan barang dan jasa yang makin lama makin bervariasi. Dengan demikian pasar akan terus berkembang dan akhirnya berujung pada kemakmuran rakyat.

Friday, October 17, 2008

Sekolah Masa Depan

Sekolah masa sekarang yang menjejalkan yang fakta-fakta kepada murid tidak akan efektif lagi. Perkembangan internet terutama search engine membuat fakta-fakta itu tak mungkin tertampung lagi dalam sebuah buku pelajaran selama masa waktu sekolah.

Format sekolah masa depan adalah:

1. Memberitahukan siswa bahwa kebenaran itu hanya bisa disimpulkan dari bukti empiris (panca indra). Dan kebenaran itu bisa digantikan dengan kebenaran yang lain.

2. Melatih siswa membuat kesimpulan baik secara eksperimen langsung maupun imajiner logika secara induktif berdasarkan fakta, dan kemudian mengujinya dengan fakta yang lain (verifikasi).

3. Melatih siswa mencari fakta baik melalui pengamatan langsung, survei ataupun dari internet.

4. Menginformasikan sejarah perkembangan ilmu pengetahuan

5. Melatih siswa menghubungkan pengetahuan-pengetahuan lintas sektoral sehingga kebenaran yang diperoleh menjadi lebih komprehensif

6. Melatih siswa berbisnis: meliputi: teknik pencarian ceruk pasar, perencanaan produksi, pemasaran hasil produksi

7. Menghilangkan mental pegawai dengan menanamkan kesadaran bahwa kebebasan individu adalah segalanya. Dan dalam bekerja yang dicari adalah pelanggan, bukan bos.

8. Sekolah itu tak perlu guru sebagai sumber ilmu tapi perlu facilitator yang punya pengalaman ataupun bisa memberi umpan balik

Tuesday, October 14, 2008

Apakah Kapitalisme Gagal?

Kapitalisme telah menciptakan kesejahteraan bagi orang banyak. Namun krisis selalu menghantam kapitalisme ini secara periodik. Hal ini membuat orang ragu dengan masa depan kapitalisme. Apakah kapitalisme gagal?

Meski ada kelemahan, kapitalisme tidak gagal. Dari sejarahnya kapitalisme adalah sistem terbuka untuk perbaikan. Unsur dasar kapitalisme seperti kompetisi, deregulasi, pasar bebas terbukti efektif untuk menggairahkan pasar, yang berujung pada kesejahteraan rakyat.

Semangat Kapitalisme dan Kesejahteraan

Kapitalisme berpusat pada individu dan memberikan kesempatan semua orang untuk mengejar kesejahteraan. Kompetisi berlangsung di antara individu atau kelompok individu, sehingga menimbulkan spesialisasi. Hasilnya adalah kemajuan teknologi.

Tapi ini bukan sekedar kemajuan teknologi. Almarhum Uni Soviet juga memiliki teknologi maju. Mereka memiliki teknologi ruang angkasa terbaik, peluru kendali tercanggih, bom nuklir terdahsyat, tapi semua ini tak bisa mensejahterakan rakyat. Sebab utamanya adalah semua teknologi itu tidak berhubungan dengan pasar.

Teknologi kapitalis berhubungan erat dengan pasar. Teknologi berkembang sesuai dengan permintaan ataupun penciptaan pasar. Inilah yang membangkitkan ekonomi. Persaingan pasar membuat inovasi teknologi seperti tiada henti. Pembuat teknologi bergairah untuk membuat karya baru dan membuka pasar baru, karena mereka akan mendapat insentif ekonomi.

Teknologi inilah yang juga membuat perluasan pasar baru para kapitalis menjadi lebih beradab. Pada suatu masa, kaum kapitalis menjajah negeri seberang lautan, untuk membuka pasar baru, mengambil bahan baku dan energi. Namun dengan perkembangan teknologi terkini, semua bisa berubah. Pasar bisa menyatu tanpa perlu paksaan apapun. Teknologi informasi mutakhir membuat dunia menyatu secara beradab.

Globalisasi memang ada masalah, namun fenomena ini sebenarnya bermanfaat bagi semua pihak. Akuntan dan dokter India bisa mengambil pekerjaan dari Amerika Serikat. Sebaliknya Amerika Serikat juga dapat mengambil keuntungan melalui ekspor barang ke India, karena penduduk India telah meningkat kesejahteraannya. Investasi asing di Cina, menguntungkan perusahaan multi nasional karena ongkos produksi menjadi sangat kompetitif. Namun Cina juga bisa mengambil keuntungan dengan perluasan lapangan kerja, industri pendukung dan transfer teknologi mutakhir. Pencarian skema-skema saling menguntungkan ini yang menjadi tugas utama setiap pemerintahan.

Kapitalisme Sebagai Sistem Terbuka

Kapitalisme adalah sistem buatan manusia yang mengandung kelemahan. Dulu kelemahan ini berupa eksploitasi buruh. Marx yang tidak tahan dengan ini, meramalkan keruntuhan kapitalisme, karena kelebihan produksi dan penderitaan buruh. Terbukti Marx keliru karena ternyata kapitalisme bisa memperbaiki dirinya sendiri. Pasar baru bisa dibentuk dengan teknologi informasi dan inovasi produk. Hak buruh makin hari makin diperhatikan. Malahan sekarang buruh di negara kapitalis menjadi sangat mahal, sehingga pabrik harus direlokasi ke negara berkembang.

Kelemahan lain seperti yang terjadi saat ini adalah krisis ekonomi. Teori Hyman Minsky menjelaskan krisis ini dengan baik. Krisis ini memang akan selalu berulang dalam suatu siklus ekonomi, karena perilaku pelaku bisnis yang spekulatif di masa ekonomi yang sedang menanjak. Solusi dari krisis ini tentu saja regulasi. Kapitalisme membutuhkan suatu aturan agar pelaku bisnis berhati-hati dalam menangani resiko bisnis.

Yang terpenting dalam menjalankan kapitalisme adalah menghilangkan dogma. Pasar bebas, deregulasi, swastanisasi harus dipandang sebagai suatu unsur yang terkait dengan dinamika pasar. Ketika pasar membutuhkan regulasi, maka pemerintah tak boleh ragu menerbitkan regulasi. Ini bukanlah pelanggaran terhadap semangat berusaha, justru ini membuat usaha menjadi lebih stabil dan mensejahterakan banyak orang.

Akhirnya, kapitalisme telah melewati sejarah panjang dan perlawanan-perlawanan ideologi. Namun sebegitu jauh sistem ini tidak hanya sekedar bisa bertahan dan beradaptasi. Dan yang terpenting sampai sekarang sistem ini berhasil mensejahterakan orang banyak.

Monday, October 13, 2008

Kapitalisme Kreatif

Kapitalisme kreatif ini makin mengemuka setelah digemakan oleh Bill Gates awal tahun ini. Sebenarnya kapitalisme jenis ini bukan hal baru. Ini sudah dilaksanakan beberapa abad lalu, semenjak pengusaha Inggris Robert Owen memberikan perhatian kepada pekerjanya dan bukan semata mencari keuntungan.

Argumen filantrofi dari kapitalisme kreatif adalah kapitalisme telah mensejahterakan banyak orang. Sementara banyak orang lain masih menderita kemiskinan ataupun mati karena penyakit yang sebetulnya dapat dicegah. Namun bagaimana kapitalisme dapat masuk ke wilayah ini? Bukankah sistem ini yang mengutamakan pencarian keuntungan sebesar-besarnya? Kapitalisme bukanlah kerja amal.

Bukti menunjukkan di kalangan orang miskin terdapat pasar yang sangat besar. Pasar ini sebenarnya potensial, tapi membutuhkan kreatifitas untuk menerapkan kapitalisme di sini. Beberapa perusahaan telah melakukan hal ini. Misalnya perusahaan telpon seluler di Kenya Safaricom yang melayani penduduk yang relatif miskin untuk penggunaan telepon genggam. Dengan adanya telepon genggam ini aktifitas ekonomi penduduk bisa meningkat. Dimana letak kreatifnya? Pada contoh safaricom adalah tarif layanan diterapkan per detik bukan per menit. Dengan tarif seperti ini telpon menjadi lebih terjangkau. Dan masyarakat miskin bisa menggunakan sarana komunikasi ini untuk meningkatkan aktifitas bisnis mereka.

Tentu saja tidak semua skema seperti bisa dilakukan. Misalnya penelitian obat malaria. Orang miskin yang butuh obat malaria tidak punya insentif apapun yang bisa dibayarkan kepada pabrik obat. Salah satu jalan untuk skema ini adalah dengan iklan bagi perusahaan penyedia obat. Dengan iklan ini maka perusahaan akan mendapat nama baik dan menarik pelanggan yang terkesan lebih banyak.

Namun pemerintah juga bisa berperan dalam skema seperti ini. Misalnya yang terjadi di Amerika Serikat. Pemerintah memberikan insentif prioritas pelayanan lebih cepat bagi perusahaan obat yang terlibat dalam pengembangan obat untuk penyakit seperti malaria. Jadi perusahaan mendapat insentif keuangan di sini.

***

Tentu saja kapitalisme bergaya amal ini ditentang, terutama oleh orang kapitalisme garis keras seperti, Milton Friedman. Bagi Tuan Friedman tugas perusahaan cuma satu, yaitu mencari profit sebesarnya untuk pemegang saham. Kerja lain di luar itu adalah penghianatan. Dengan profit itu, pemegang saham boleh menggunakannya untuk apa saja, termasuk kegiatan amal. Namun keputusan ini sepenuhnya diserahkan oleh pemegang saham, bukan eksekutif.

Tidak ada yang salah dengan Tuan Friedman ini. Kalau kita lihat, misalnya perjalanan bisnis Bill Gates. Bukankah Bill Gates sepenuh mencurahkan energi untuk mencari profit sebesar2nya, tanpa dibebani oleh kegiatan amal? Setelah kaya baru Bill Gates mendirikan badan amal.

Akhirnya dapat kita simpulkan di sini, sebagai berikut:

1.Pada skema tertentu, misalnya untuk perluasan pasar di antara warga miskin yang memang terbukti ada, kapitalisme bisa merambah masuk. Walaupun profit awal kecil, namun pembukaan pasar ini – dengan memperkenalkan teknologi yang memudahkan bisnis - dapat mengundang pasar yang lebih besar.
2.Pada bidang yang bukan pasar orang miskin seperti misalnya pengobatan malaria, pemerintah bisa memberikan insentif bagi perusahaan yang melakukannya. Baik melalui iklan, maupun insentif keuangan berupa prioritas bagi perusahaan tersebut untuk suatu urusan yang berkaitan dengan finansial.
3.Kerja sosial tidak bisa membebankan keuangan pada perusahaan, karena bertentangan prinsip utama kapitalisme, yaitu keuntungan maksimal bagi perusahaan. Karena semangat inilah yang membuat kapitalisme mensejahterakan banyak orang.

Friday, October 10, 2008

Masalah Perangkap Pangan (Food Trap)

Tanggal 1 September lalu Kompas, menurunkan berita soal perangkap pangan (food trap) ini. Ada 7 komoditas pangan utama Indonesia, yaitu: 1. gandum, 2. kedelai, 3. daging ayam ras dan 4. telor ayam ras (posisi kritis) dan 5. jagung, 6. daging sapi, 7. susu (posisi patut diwaspadai), sangat tergantung tergantung impor dari luar negeri. Dan perusahaan multi nasional dari negara-negara maju menguasai sektor pertanian dari industri hulu sampai ke industri hilir. Tapi benarkah "food trap" itu ada?

Industri software terutama untuk aplikasi perkantoran dikuasai Microsoft. Mengapa kita tak pernah mempermasalahkan "software trap"? Industri prosesor komputer dikuasai Intel. Mengapa kita tidak pernah mempermasalahkan 'pocessor trap"? Begitu juga industri otomotif di Indonesia dikuasai Toyota, mengapa tak ada "otomotive trap"?

Soal istilah perangkap ini tidak bisa kita lakukan. Fenomena ini bisa terjadi, paling tidak, karena 2 hal, yaitu: 1. Keunggulan kompetensi, 2. Dampak Globalisasi.

Negara-negara maju yang sudah terbiasa dengan pola pikir kapitalisme yang sangat menekankan keunggulan bersaing menyebabkan perusahaan-perusahaan yang bertahan di sana memiliki keunggulan kompetensi tinggi. Kompetensi itu meliputi kemampuan manajemen perusahaan, kemampuan berinovasi, kemampuan memasarkan hasil produksi.

Di samping itu dengan berkembangnya teknologi dunia menjadi satu yang membuat batas negara bangsa menjadi semu. Fenomena globalisasi itu adalah hal yang tak terelakkan. Negara yang tidak merangkul globalisasi akan menjadi terbelakang dan ketinggalan. Dan negara yang sudah terlanjur ikut dalam globalisasi harus mencari cara untuk mengambil keuntungan - atas dasar keunggulan yang dimiliki - dari fenomena ini.

Kembali ke masalah "food trap", Indonesia harus segera mengambil manfaat fenomena ini. Ada 2 hal yang bisa dilakukan Indonesia dengan adanya kehadiran perusahan multi nasional ini, yaitu: 1. Mengambil manfaat bisnis, 2. Mengambil manfaat pendidikan.

Indonesia bisa mengambil manfaat bisnis melalui undangan investasi. Keunggulan kompetitif lahan produksi pangan di Indonesia harus dikuti dengan usaha membuat perusahaan multi nasional itu menanamkan investasinya terutama di industri hilir. Tentu saja bangsa ini bisa mengambil manfaat kehadiran industri di hilir itu. Industri itu akan menyerap tenaga kerja. Selain itu juga akan menghasilkan industri-industri pendukung untuk mendukung operasi industri utama. Usaha kita "cuma" membuat iklim investasi yang baik yang bisa mengundang investor itu mau menanamkan modalnya di sini.

Keunggulan kompetensi juga bisa diraih melalui kerja sama pendidikan. Untuk pertanian, perusahaan multi nasional itu juga mendirikan lembaga penelitian di negara yang bersangkutan, antara lain misalnya, untuk mendapatkan benih unggul yang sesuai dengan kondisi setempat. Tentu saja kita bisa membuat regulasi yang mengharuskan keterlibatan peneliti/universitas di Indonesia dalam kegiatan ini. Sebagai gambaran Pemerintah Cina telah melakukan hal ini. Pusat penelitian Microsoft di Cina bisa memberikan gelas pasca doktoral kepada ilmuan Cina.

Dengan kehadiran lembaga-lembaga penelitian kelas dunia ini, peneliti Indonesia bisa mengambil manfaat sistem kerja, etos kerja, teknik inovasi dan cara menghubungkan penelitian dengan produk yang dipasarkan.

Akhirnya,tidak ada yang disebut perangkap pangan (food trap), yang ada justru adalah kesempatan bangsa ini maju melalui pangan. Tak ada masalah sama sekali, yang ada justru peluang.

Thursday, October 9, 2008

Teori Minsky Mengenai Krisis Keuangan

Kerapuhan finansial adalah ciri khas ekonomi kapitalis. Krisis pada ekonomi kapitalis ini lebih disebabkan oleh sifat manusia dalam mengelola resiko daripada hal lain.

Dalam pembiayaan bisnis ada resiko yang harus diperhitungkan dan ternyata dalam perjalanannya, perusahaan umumnya mengambil jenis resiko yang berbeda dalam suatu siklus bisnis. Dalam suatu siklus bisnis ada turun naik keadaan. Keadaan resesi yaitu ketika ekonomi berhenti tumbuh, kemudian ekonomi tumbuh perlahan dan mencapai puncak atau boom untuk kemudian melemah sampai resesi lagi.

Dalam satu siklus, perusahaan menempuh 3 jenis resiko, yaitu: hedge finance di masa resesi, speculative finance di masa pertumbuhan dan ponzi finance di masa boom.

Ketika resesi hanya perusahaan yang benar-benar kuat yang bisa bertahan. Dan rata2 perusahaan yang selamat itu mengambil posisi hedge, yaitu semua kewajiban perusahaan dapat diselesaikan melalui keuntungan operasi perusahaan. Pada masa ini perusahaan tidak berani berutang untuk investasi baru.

Setelah keadaan stabil ini perusahaan mulai percaya diri lagi untuk mengembangkan perusahaan dengan melakukan investasi melalui utang. Ini tipe kedua pengambilan resiko perusahaan, yaitu: speculative finance. Ini masa ketika perekonomian benar-benar mengalami boom.

Setelah mengalami boom ekonomi manusia menjadi serakah, sombong dan ceroboh. Pinjaman tidak terkendali dan kontrol terhadap kemampuan perusahaan menjadi tidak ada. Ketika perusahaan terlalu berspekulasi - yang disebut Ponzi finance – keuangan perusahaan menjadi sangat beresiko. Antara pemasukan uang dan kebutuhan uang menjadi sangat sensitif. Tidak ada lagi ada dana cadangan untuk menalangi ketika ada sedikit saja kesalahan perhitungan. Dan ini cuma menunggu waktu ketika ada hambatan dalam pemasukan. Ketika ini terjadi perusahaan akan kolaps. Ini menimbulkan efek domino kepada lembaga yang meminjamkan uang. Apalagi kalau lembaga peminjaman itu juga dalam posisi Ponzi finance.

Inilah masa krisis ekonomi dan resesi.