Wednesday, September 30, 2009

Kemampuan Balistik

Apa yang sangat membedakan manusia dengan monyet ataupun simpanse?

Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap manusia bahwa sesungguhnya beda DNA manusia dengan simpanse itu cuma 3.9%. Tapi di dalam prosentase yang kecil inilah ada yang yang signifikan yang membuat manusia bisa unggul dari sesama hewan. Pakar neurosains, Dr William Calvin, menyatakan bahwa manusia memiliki kemampuan balistik. Ini adalah kesanggupan alami manusia untuk melempar suatu objek dan mengenai sasaran yang bergerak. Hanya manusia yang memiliki kesanggupan genetis untuk berpikir ke muka, melontarkan diri ke masa depan dan meluncurkan rencana penyerangan yang mengenai sasaran.

Salah satu bukti tertua dari teori kemampuan balistik ini ada pada situs di Afrika. Pada lokasi ini, Homo Erectus, pendahulu manusia, membantai sekumpulan babun purba dengan serangan lemparan batu sebanyak 1 ton lebih.

Kemampuan balistik inilah dasar kejayaan spesies manusia di atas spesies-spesies lain. Sejak dulu, ketika manusia masih agak mirip dengan monyet, kemampuan balistik tidak hanya digunakan untuk melempar batu terhadap sasaran bergerak spesies lain, tapi juga digunakan untuk melakukan inisiatif untuk target masa depan seperti ide meruncingkan batu sebagai alat pemotong.


* * *

Jika di jaman purba kemampuan balistik ini untuk membunuh hewan yang akan di mangsa ataupun spesies kompetitor ataupun pembuatan alat-alat primitif, maka di jaman moderen ini kemampuan balistik ini adalah untuk mencapai target masa depan. Setiap orang maupun bangsa harus mampu membaca tren masa depan dan mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan yang belum terjadi dan belum diketahui bentuknya itu.

Untuk mencapai target-target itu maka manusia membuat rencana dan strategi. Sama seperti manusia membuat kapak batu yang sangat efektif dan efisien untuk memotong sesuatu. Dan jika dulu kemampuan ini merupakan alat utama kelangsungan dan kejayaan hidup manusia, maka di jaman modern ini – untuk tujuan yang sama - kemampuan untuk membuat rencana untuk mengantisipasi masa depan pun sangat penting.

Kita bisa melihat beberapa contoh bangsa, yaitu Malaysia, Brazil dan Cina yang membuat strategi-strategi jitu untuk kelangsungan masa depan bangsanya.

Konsultan-konsultan McKinsey, Hugh G. Courtney, Jane Kirkland, dan S. Patrick Viguerie, memberi ulasan tentang strategi menghadapi masa depan yang serba tak pasti, Strategy
Under Uncertainty. Mereka membagi ketidakpastian masa depan itu menjadi 4 level, dari level 1 untuk masa depan yang bisa diramal sampai level 4 dimana kepastian sangat sulit diramal.

Yang menarik dari ulasan ini adalah kisah keberhasilan mantan pemimpin Malaysia, Mahathir Mohamad, yang sukses mengatasi ketidakpastian level 4, level masa depan yang paling sulit.

Tahun 1996 Mahathir mencoba memetakan masa depan industri multi media di kawasan Asia Pasifik. Pada masa itu tentu saja semua gambaran tentang industri multi media masih sangat buram. Produk potensial masih belum terdefinisi, pemain-pemain utamanya, tidak kebutuhan konsumen maupun standar teknologi.

Dengan penuh visi, Mahathir membuat kebijakan yang berani dan membuat pertaruhan besar dengan menginvestasikan setidaknya Rp. 150 trilyun untuk membuat kawasan yang disebut Multimedia Super Corridor di selatan Kuala Lumpur.

Proyek ini cukup sukses dan kini Malaysia telah menjadi tuan rumah ratusan perusahaan teknologi informasi kelas dunia termasuk Intel, Microsoft, Nippon Telegraph and Telephone, Oracle, dan Sun Microsystems. Ini tidak saja menjadikan Malaysia menjadi bagian dari mata rantai bisnis teknologi informasi, namun juga mendapat manfaat bagi pengembangan sumberdaya manusia pada bidang yang paling bergairah dan dinamis di jaman ini.

Kalau Malaysia memanfaatkan kemampuan balistiknya di bidang teknologi informasi, sebuah negara berkembang lain, yaitu: Brazil melakukan hal serupa di bidang energi alternatif.

Sejak tahun 1976, pemimpin Brazil mempunyai perencanaan visioner dengan membuat undang-undang di bidang energi alternatif berupa kewajiban pencampuran bensin dengan bahan bakar nabati, etanol. Pada awalnya prosentase pencampuran ini 10%, namun sejak 2007 prosentase etanolnya sudah naik menjadi 25%.

Sekarang Brazil merupakan negara terkemuka dan memiliki teknologi terdepan di bidang program etanol dan biodiesel. Brazil merupakan negara produsen no. 2 penghasil etanol terbesar, setelah Amerika Serikat dan sekaligus pengekspor etanol terbesar di dunia.

Apa yang dilakukan Malaysia maupun Brazil adalah bagian masa lalu. Dan masa depan yang menantang setiap bangsa senantiasa bergerak liar. Visi setiap masa harus senantiasa diperbaharui. Setiap bangsa harus terus mengasah kemampuan balistiknya.

Saat ini salah satu negara yang sedang membuat pertaruhan besar untuk masa depan adalah Cina yang mencoba pertaruhan di bidang industri mobil.

Peta masa depan industri mobil masih buram. Sasarannya memang jelas, yaitu mengurangi penggunaan bahan bakar fosil sampai 0%. Namun untuk menuju sasaran itu, ada masa transisi industri mobil, yaitu kendaraan hibrida, gabungan bahan bakar fosil dengan energi listrik. Namun sampai kapan periode transisi ini harus berakhir, tidak seorangpun yang tahu. Pembuat mobil terkemuka seperti Mitsubishi dan Nissan sudah menentukan waktu untuk mobil listrik adalah saat ini, sekarang, dan di jaman ini. Sementara itu pembuat mobil no 1, Toyota, masih bertahan dengan visi bahwa kendaraan pada jaman ini masih mobil hibrida. Dan saat ini siapa pemenang visi industri mobil ini belum bisa ditentukan.

Dengan keadaan peta yang buram ini, dengan segala resiko, pemerintah Cina sudah bertekad untuk memenangkan kompetisi mobil elektrik ini. Pemerintah Cina mencanangkan akan menjadi pembuat mobil elektrik terbesar di dunia. Untuk mencapai sasaran itu Pemerintah Cina akan memberikan subsidi untuk penelitian mobil elektrik dan subsidi bagi pembeli. Sejarah akan menentukan apakah strategi pemerintah Cina benar atau tidak.

* * *

Bagaimana dengan Indonesia tercinta? Apakah pemimpin kita memiliki kemampuan balistik? Apakah ada kebijakan pemerintah untuk membentuk masa depan Indonesia yang lebih sejahtera?

Suatu ketika Metro TV pernah mengadakan diskusi dengan beberapa kantor-kantor berita dari seluruh seluruh dunia. Desi Anwar sebagai pemimpin diskusi menanyakan kepada wakil dari Xinhua, kantor berita Cina, mengenai apa yang sering ia liput dari Indonesia. Secara “lugu” wakil Xinhua itu mengatakan yang paling sering ia liput dari Indonesia adalah: gempa bumi!

Saya kira orang Cina ini benar, selain gempa bumi – dan tentu saja terorisme – memang hampir tak ada berita yang menarik diberitakan dari Indonesia. Jangankan orang dari luar negeri, saya pun sebagai warga negara Indonesia hampir tak tahu berita menarik tentang visi besar masa depan bangsa yang fokus di suatu bidang dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

Saya selalu khawatir kegagalan bangsa ini mencari pemimpin dengan kemampuan balistik akan menyebabkan nasib bangsa akan seperti nasib babun purba yang malang, yang dihajar sampai mati oleh bangsa-bangsa lain yang lebih cerdas.

* * * * *

No comments: